Menjejaki Syurga Firdausi

Kita telah melewati detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun-tahun yang cukup panjang dan melelahkan. Semuanya sudah berlalu… Berapa banyak amal yang sudah kita lakukan selama itu? Mari kita mereka-reka jawabannya. Ya, ternyata baru itulah, kesungguhan yang kita lakukan untuk menyongsong sebuah kehidupan yang pasti dan abadi. Ternyata, hanya sebanyak itu bekal yang kita kumpulkan untuk menebus kebahagiaan akhirat… Sudah cukup? Pasti tidak. Sementara kita sama sekali tidak tahu, berapa detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun lagi yang tersisa di hadapan.

Saudaraku..
Sekarang, kita berada di sini. Di detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun ini. Mari berdo’a, semoga keadaan kita lebih baik dari yang dulu. Mari bersungguh-sungguh, kerana hanya di sini kesempatan kita untuk mengukir amal. “Dunia ini hanyalah tiga hari,” nasihat Imam Hasan Al-Basri. Ia melanjutkan, tiga hari itu adalah: “Hari kelmarin yang sudah berlalu, dan kita tidak mampu lagi untuk mengubahnya. Hari esok, yang kita tidak tahu apakah kita akan masih memiliki kesempatan di dalamnya. Dan hari ini, kesempatan untuk kita melakukan amal salih. Maka, beramallah sebanyak-banyaknya…”

Saudaraku,
Semua kita pasti sangat mendambakan rahmat Allah untuk dimasukkan ke dalam syurga. Itulah kemenangan, kebahagiaan abadi, kenikmatan yang tak ada tandingannya. Kenikmatan yang membuat kita tak akan puas hanya sekadar berada di depan gerbangnya. Kenikmatan yang menjadikan kita tak akan berhenti hanya sekadar masuk beberapa langkah di halamannya. Kenikmatan agung yang membuat siapa pun takkan pernah berharap kecuali sampai ke puncaknya yang paling tinggi: syurga Firdaus. Kita bahkan berharap ingin termasuk dalam kategori kelompok ‘illiyyin‘, yaitu orang-orang yang ditinggikan. Obsesi ini tercermin dalam nasihat Rasulullah s.a.w, Continue reading

Cukuplah Allah Yang Menilai

Saudaraku yang kucintai,
Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir. Ingin sekali rasanya iringan langkah kita tak pernah putus. Terus bersama dan beriring… Kita bahkan selalu berharap agar Allah berkenan memasukkan kita ke dalam syurga-Nya, bersama pula. Saudaraku, begitulah ungkapan hati yang muncul kala kita menjalin pertemanan, persaudaraan, persahabatan, kerana Allah SWT. Kita telah mengawalinya dengan keimanan. Dan keimanan itu harusnya tetap memelihara kita sampai kehidupan abadi di akhirat…

Saudaraku..
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Mungkin kita sudah terlalu hafal, dengan perkataan bahwa kehidupan ini merupakan ladang bagi akhirat. Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa hidup ini tak lain merupakan tempat ujian. Tempat menanam, tempat menyemai, tempat bekerja dan berjuang. Ia hanya persinggahan, sama sekali bukan akhir perjalanan. Atau, dalam ungkapan Dr. Abdullah Azzam, tokoh jihad legendaris yang syahid di Afghanistan: “Hidup ini jihad, umat ini tidak akan hidup kecuali dengan jihad…

Saudaraku..
Jangan putuskan bait-bait do’a kepada Allah agar tetap mengikat hati kita. Sepanjang kebersamaan ini, mungkin sudah banyak amal yang kita lakukan. Di antara kita, banyak yang sudah mengalami letih, lelah, meneteskan peluh dan bahkan terluka, untuk sebuah kebaikan. Di antara kita juga, tak sedikit yang berlinang air mata untuk sebuah keyakinan. Mungkin kita merasa, telah mengukir dan menghiasi amal kita sebaik-baiknya untuk Allah SWT. Ikhlas, bersih, tak ada kecenderungan. Tapi saudaraku, hati-hatilah. “Berapa banyak lentera yang rnati tertiup angin, Berapa banyak amal ibadah yang dirusak oleh pelakunya sendiri…” begitu nasihat Muhammad Ahmad Rasyid, dalam Al-Awa‘iq. Continue reading

Biarlah orang-orang bicara tentang kita

Amal-amal kita, tidak hanya dicatat para malaikat. Kerana cerita-cerita dan kesan yang kita tinggalkan di dunia setelah mati, serupa cermin nilai dari perilaku kita selama hidup. Alangkah indahnya, sebuah kematian yang dapat meninggalkan cerita-cerita baik pada sesama. Alangkah bahagianya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal salih yang bermanfaat untuk orang lain.

Di akhirat kelak, tak ada sesuatu yang paling disesali penghuni syurga kecuali penyesalan mereka terhadap waktu yang hilang di dunia tanpa diisi amal salih. Kerana itu, ketika ada seorang salih ditanya, “Kenapa engkau melelahkan jiwamu dalam beribadah?” Ia menjawab, “Aku ingin mengistirahatkan jiwaku.” Istirahat yang dimaksud, adalah istirahat di dunia dengan jiwa yang tenang setelah beribadah. Juga istirahat di akhirat, dengan memasuki kehidupan yang begitu mententramkan dan menggembirakan.

Umur hidup itu, menurut Ibnul Jauzi rahimahullah, tak berbeza dengan tempat jual beli berbagai macam barang. Ada barang yang bagus dan juga yang jelek. Orang yang berakal, pasti akan membeli barang yang bermutu meski harganya mahal. Kerana barang itu lebih awet dari barang jelek meski harganya murah. “Orang yang tahu kemuliaan alam semesta harus meraih sesuatu yang paling mulia yang ada di alam semesta ini. Dan sesuatu yang paling mahal nilainya di dunia ini adalah, mengenal Allah SWT,” kata lbnul Jauzi. Continue reading

Agar Tidak Silau

Harus ada upaya membenahi jiwa, agar tak mudah terpesona dengan segala yang menyilaukan. Ini memang tidak ringan. Tetapi sebuah kejayaan memerlukan perjuangan yang tidak ringan. Beberapa langkah berikut, semoga dapat menjadi bahan renungan.

Pertama : Ingatlah bahwa kesempurnaan hanya milik Allah

Semua yang ada di sekeliling kita adalah makhluk. Setiap makhluk mempunyai keterbatasan. Tidak ada yang sempurna. Termasuk kita. Boleh jadi kita begitu hebat di suatu bidang ilmu. Tetapi tentu kita mengakui bahwa kita tidak mampu di bidang yang lain. Alam ini terlalu luas untuk dijangkau oleh akal kita yang terbatas kemampuan dan kapasitinya.

Setiap kita juga pernah terjatuh ke dalam suatu kesalahan dan khilaf. Sekecil apa pun itu. Para nabi saja kelak merasa keberatan untuk memberikan syafaatnya. Dikeranakan masing-masing merasa pernah berbuat sesuatu yang tidak diredhai Allah. Maka, marilah bertanya dan mengaca, sesungguhnya siapakah diri kita ini?

Kesempurnaan memang hanya milik Allah. Kita tidak selayaknya menuntut kesempurnaan dari siapa pun. Sebagaimana kita tidak dapat menuntutnya dari diri kita. Walau itu bukan alasan untuk tidak semakin baik. Kita harus tetap berusaha untuk selalu baik dan semakin baik seiring dengan perjalanan waktu. Continue reading

Kebahagiaan itu ada disini

Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syeikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (‘ubudiyyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.”

Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul kerana semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang.

“Semakin tinggi tuntutan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu.” (Tahdzib Madarijus Salikin, 119)

Maka, jangan hentikan perenungan dan muhasabah diri kita masing-masing. Sungguh banyak lubang yang harus kita waspadai di tengah hidup yang penuh fitnah dan tipu daya ini.

Manusia, diciptakan dalam keadaan susah payah. Memang itulah ketentuan Allah SWT. Al-Quran menyinggung masalah ini dalam firman-Nya, “Laqad khalaq nal insaana fii kabad” ; Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan kabad atau susah payah. (Al-Quran, Al Balad: 4). Kata `kabad’ dalam kamus Mu’jam Al Wasit didefinisikan dengan kata masyaqqah wa `ana artinya kesulitan dan kesusahan. Ya, sulit dan susah. Itulah yang pasti akan menghiasi hidup semua. Continue reading