About nurjeehan

An analyst currently residing in Kuala Lumpur, Malaysia. Living every single day with an earnest heart, searching for Allah's love and maghfirah.

Kuncinya Adalah Keikhlasan

Semoga kita tak pernah putus berdo’a agar rahmat Allah menaungi kebersamaan kita.

Saudaraku,
Manusia, tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah s.a.w, sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Baginda tetap memiliki tabiat kemanusiaan. Kerana, andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tak ada manusia yang berupaya mengikutinya. Dan, artinya baginda tak mungkin dijadikan teladan.

Kerana itulah Rasulullah mengucapkan do’a: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, aku laknat dan aku cambuk, jadikanlah hal itu sebagai do’a dan pembersih yang akan mendekatkannya kepada-Mu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki makam Al-Ma’sum – yang terpelihara dari dosa – kerana keimanannya yang tinggi dan Allah SWT merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemahuan waja, cita-cita tinggi dan mampu terhindar dari bisikan syaitan melalui hawa nafsu. Continue reading

Kebersamaan Kita

Betapa indahnya kebersamaan kerana Allah, persaudaraan kerana keimanan kita. Tali yang mengikat kita adalah kesatuan pemahaman dan kesamaan tujuan. Kebersamaan ini, yang pernah disinggung dalam beberapa sabda Rasulullah s.a.w. Bahawa setiap Muslim yang mengikhlaskan kecintaannya kepada saudaranya kerana Allah, tanpa alasan lainnya, maka ia akan memperoleh pahala agung dan keridhaan dari-Nya. Allah Maha Besar. Bagi-Nya segala puji syukur sepenuh langit dan bumi, yang menuntun kita hingga di sini, sampai saat ini.

Saudaraku,
Dengarkanlah hadis-hadis dari kekasih Allah SWT berikut ini, “Sesungguhnya Allah berfirman di hari kiamat, “Di mana orang-orang yang saling mencintai kerana Keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dengan naungan-Ku di saat tak ada naungan lain kecuali naungan-Ku.” (HR Muslim). Pada kesempatan lain, Rasul s.a.w. mengatakan, “Barangsiapa yang ingin merasai manisnya keimanan, hendaklah ia mencintai seseorang, yang tidak ia cintai kecuali kerana Allah.” (HR Ahmad)

Dan dalam hadis yang lain baginda bersabda, “Tidaklah seorang hamba Allah mencintai hamba Allah kerana Allah, kecuali ia akan dimuliakan oleh Allah.” Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapat naungan-Nya di hari itu.

Jangan berputus asa dan jangan berhenti untuk terus membersihkan diri, kerana sebenarnya, di sanalah inti kekuatan ikatan kebersamaan kita. Kekotoran hati akan membuat kebersamaan kita menjadi gersang dan mudah rapuh. Sementara kebersihan hati membuat kebersamaan ini menjadi sejuk dan semakin kuat. Continue reading

Jangan Sekali

Boleh jadi, saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu;

dari seorang fakir yang telah engkau tolong, atau
dari orang yang kelaparan engkau telah beri makan, atau
dari seorang yang sedih engkau telah bahagiakan, atau
dari seorang yang berpapasan denganmu telah engkau berikan senyuman, atau
dari seorang yang dihimpit kesulitan telah engkau lapangkan.

Maka janganlah sekali-kali engkau meremehkan sebuah kebaikan untuk selama-lamanya.

Jejak Batuan dan Pasir

Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka sedang melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang. Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk bekas-bekas yang berhujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang berterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu terhuyung-hayang. Pakaian mereka berlayangan menentang arus angin, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencuba melawan ganasnya badai.

Badai reda. Tapi, musibah lain menimpa mereka. Kantung bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercicir. Entah timbunan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk termenung menyesali kehilangan itu. “Ah.., tamat riwayat kita,” kata seorang di antara mereka, kita sebut saja pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan hujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.” Sahabatnya, si pengembara kedua pun tampak bingung. Namun, mencuba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak sahabatnya melanjutkan perjalanan. Continue reading

Kenangan Terindah

Hari itu, sepotong episod masa lalu kembali hadir dalam benak A’isyah r.a. Ketika seorang sahabat memintanya berkisah tentang apa yang paling berkesan baginya dari Rasulullah s.a.w. – A’isyah tak berdaya untuk menahan tangis. Air matanya mengalir deras. Lalu ia berkata, “Yang manakah dari sifat Rasulullah yang tidak mengesankan? Pada suatu malam baginda datang kepadaku. Lalu ia berbaring bersamaku di tempat tidur. Hingga kulitnya menyentuh kulitku. Tiba-tiba baginda berkata, ”Wahai putri Abu Bakar, biarkan aku beribadah kepada Rabb-ku.” Aku berkata, “Sungguh aku senang dekat dengan dirimu, tetapi aku mengutamakan keinginanmu (untuk beribadah).”

Maka, Rasulullah s.a.w. pun bangkit seraya berwudhu’ dengan tidak banyak menuangkan air. Kemudian berdiri solat. Lalu menangis. Air matanya mengalir di dadanya. Kemudian baginda ruku’ dan menangis, kemudian sujud dan menangis, kemudian mengangkat kepala dan menangis. Tidak henti-hentinya baginda melakukan itu hingga Bilal mengumandangkan adzan solat (Subuh). Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang menjadikan engkau menangis, sedangkan Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Rasulullah dengan lembut berkata, “Apakah tidak selayaknya jika aku menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur?”

Begitulah. Kisah A’isyah di atas, tidak sekadar ungkapan haru-biru dan kerinduan seorang isteri. Yang bertahun-tahun menemani suami tercintanya. Siang dan malam baginya adalah hari-hari perjuangan bersama Rasulullah. Segalanya begitu indah, meski kadang terasa melelahkan. Itu memang kisah tentang keluarga Rasulullah s.a.w. yang mulia. Tentang keagungan peribadi Rasul. Juga tentang kebahagiaan A’isyah mengisi hidupnya bersama manusia termulia, Rasulullah s.a.w. Tetapi lebih dari itu, kisah A’isyah, adalah juga serangkaian makna-makna tentang bagaimana Rasulullah s.a.w. menyikapi masa lalu dan masa yang akan datang. Sebuah pelajaran sangat mahal bagi siapapun yang ingin mengikuti peri hidupnya dan meniti jalan kemuliaannya. Continue reading