Sirah Nabawiyyah – Ar-Raheeq al-Makhtum (Hard Cover)

Tajuk Buku : Ar-Raheeq al-Makhtum – Sirah Nabawiyyah SAW
Pengarang : Saffiyu Al-Rahman Al-Mubarakfuri
Penterjemah : Muhammad Ramzi Omar
Penerbit : Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (YADIM)
Kulit Buku: Keras (Depan & Belakang)
Ketebalan : 733 muka surat
Harga : RM 60.00

Ar-Raheeq al-Makhtum : Sirah Nabawiyyah SAW diibaratkan sebagai biografi Nabi Muhammad SAW kerana memaparkan perjalanan hidup Rasul terakhir sebagai utusan Allah yang bertanggungjawab menyampaikan dakwah Islamiyah di muka bumi ini. Baginda telah melalui perjuangan yang amat berliku dan menempuh satu perjalanan hidup yang sarat dengan suka dan duka, kepayahan dan keperitan yang mungkin tidak mampu ditanggung oleh manusia lain. Namun akidah dan tauhid yang disampaikan oleh Rasulullah SAW telah mencapai kejayaan yang amat gemilang dengan kuasa Allah SWT.

Buku ini turut menjelaskan beberapa faktor yang mendorong kepada kesabaran dan kecekalan tinggi baginda. Antaranya adalah keimanan baginda kepada Allah SWT, menerima kepimpinan yang diamanahkan dengan sepenuh jiwa dan raga, rasa tanggungjawab yang menebal, keimanan terhadap hari akhirat, panduan dari Al-Quran Al-Karim dan pegangan tentang janji yang dikurniakan oleh Allah SWT di atas kemenangan menyebarkan Islam.

Selain memaparkan liku-liku perjuangan dakwah Rasulullah SAW, buku ini juga mengetengahkan beberapa strategi dan uslub dakwah yang digunakan oleh baginda, bermula dari peringkat permulaan, peringkat tribulasi dan peringkat kejayaan yang membawa kepada kegemilangan Islam.

Karya Safiyyu Al-Rahman Al-Mubarakfuri ini merupakan karya unik dari segi bahasa dan juga susunan jalan ceritanya. Setiap peristiwa yang berkaitan Rasulullah SAW, diceritakan secara kronologi, diperincikan dan boleh digambarkan dengan baik oleh pembaca. Dalam bab akhir buku ini memuatkan beberapa pandangan dan gambaran daripada para sahabat, isteri-isteri Nabi Muhammad SAW dan masyarakat setempat tentang sifat dan peribadi baginda.

Buku ini bukan sahaja sesuai dijadikan rujukan kepada para pelajar, pendidik, pendakwah dan masyarakat umum sebagai panduan untuk menyebarkan dakwah Islamiah. Malah masyarakat luar yang ingin mengenali dan memperhalusi keperibadian dan kisah kehidupan Rasulullah SAW yang agung.

Ar-Raheeq Al-Makhtum : Sirah Nabawiyyah SAW adalah buku yang paling mendapat sambutan kerana beberapa faktor. Antaranya pengiktirafan sebagai Johan Sayembara Penulisan Sirah Nabawiyyah yang dianjurkan oleh Rabithah Al-Alam Al-Islami pada 1396H di Pakistan, yang membawa penceritaan terperinci perjalanan hidup Rasulullah SAW bermula sebelum kelahiran baginda sehinggalah kewafatan baginda.

Untuk memiliki kitab ini sebagai khazanah rujukan atau projek wakaf/amal jariah, sila hubungi nombor-nombor yang tertera pada poster untuk tempahan.

IMG-20160331-WA0001

Gagasan Kehidupan

mawar-poligami

Perempuan-perempuan mulia itu hadir satu persatu dalam kehidupannya. Satu-satu. Semua pada waktunya. Tepat pada waktunya. Untuk mengisi peranan sejarah yang telah disiapkan takdir di sepanjang jalan kehidupannya. Harus begitu memang. Sebab setiap potong umurnya adalah sebuah fragmen dari sebuah senario panjang kehidupan yang hendak ditulisnya di atas bumi; di bawah bimbingan langit.

Perempuan-perempuan mulia itu hadir satu persatu dalam kehidupannya. Tepat pada waktunya. Mereka semua masuk ke dalam wilayah kehidupannya yang telah diformat oleh misi kenabian. Tapi mereka semua masuk dari pintu yang sama: cinta jiwa. Mereka mencintai keperibadiannya. Mereka mencintai misinya. Maka mereka lebur menjadi sebuah gagasan kehidupan yang kompak: menjadi pendukung utama bagi seorang lelaki akhirat, sang Nabi, Muhammad s.a.w. Continue reading

Sentuhan Keberkahan

Daya cipta material adalah kekuatan. Pengorbanan adalah kekuatan. Tapi apa yang dilakukan seorang pahlawan mu’min jika harta dan sarana yang diciptakannya, dan ingin dikorbankannya di jalan cita-citanya, ternyata tidak sampai memenuhi seluruh keperluannya?

Itu adalah sisi kepahlawanan yang lain. Apa yang teruji dalam situasi itu adalah seberapa percaya ia kepada dirinya sendiri, kepada cita-citanya, kepada Allah, di tengah semua keterbatasan itu, seberapa ‘nekad’ ia melawan tekanan keterbatasan itu, seberapa cerdas ia mensiasati keterbatasan itu, seberapa cekap ia dalam keseluruhan hidupnya.

Melahirkan sebuah karya kepahlawanan di tengah keterbatasan itu adalah kepahlawanan yang lain. Tapi ini memaksa kita mencari penafsiran, yang lebih utuh, tentang semua faktor yang mempengaruhi proses penciptaan karya kepahlawanan tersebut. Pertanyaannya adalah, jika kecukupan sarana dan harta terhadap keperluan penciptaan karya kepahlawanan tidak seimbang, maka faktor apakah yang menjelaskan lahirnya karya tersebut? Continue reading

Cermin Kebenaran Cinta

Begitulah susunan kejadiannya. Di awal hanya ada Allah. Lalu Ia menciptakan arasy-Nya di atas air. Setelah itu Ia menciptakan pena. Kemudian dengan pena itulah Ia menitahkan penulisan semua makhluk yang akan Ia ciptakan di alam raya ini: langit, bumi, malaikat, manusia, jin hingga syurga dan neraka. Dengan pena itu juga Ia menitahkan penulisan semua kejadian — dengan urutan-urutan dan kaitan-kaitannya pada dimensi ruang dan waktu yang akan dialami makhluk-makhluk-Nya.

Tampaknya dengan sengaja Ibnu Katsir mengawali bahasan sejarahnya dalam Awal dan Akhir dengan huraian tadi. Tiba-tiba sejarah terbentang sebagai sebuah cerita penciptaan tanpa henti. Dari Allah awalnya, dan kelak ke sana akhirnya. Tapi jika Allah tidak mendapatkan manfaat dari ciptaan-ciptaan-Nya, maka tidak ada yang dapat menjelaskan motif di balik cerita kehidupan itu kecuali hanya satu kata: Cinta!

“Maka”, kata Ibnul Qayyim dalam Taman Para Pencinta, “semua gerak di alam raya ini, di langit dan bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta.” Dengan dan untuk itulah alam ini bergerak. Kehendak dan cintalah alasan pergerakan dan perhentiannya. Bahkan dengan dan untuk kehendak dan cinta jugalah alam ini diciptakan. Maka tak satupun makhluk di alam ini yang bergerak kecuali bahwa kehendak dan cintalah motif dan tujuannya. Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Continue reading

Menjejaki Syurga Firdausi

Kita telah melewati detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun-tahun yang cukup panjang dan melelahkan. Semuanya sudah berlalu… Berapa banyak amal yang sudah kita lakukan selama itu? Mari kita mereka-reka jawabannya. Ya, ternyata baru itulah, kesungguhan yang kita lakukan untuk menyongsong sebuah kehidupan yang pasti dan abadi. Ternyata, hanya sebanyak itu bekal yang kita kumpulkan untuk menebus kebahagiaan akhirat… Sudah cukup? Pasti tidak. Sementara kita sama sekali tidak tahu, berapa detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun lagi yang tersisa di hadapan.

Saudaraku..
Sekarang, kita berada di sini. Di detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun ini. Mari berdo’a, semoga keadaan kita lebih baik dari yang dulu. Mari bersungguh-sungguh, kerana hanya di sini kesempatan kita untuk mengukir amal. “Dunia ini hanyalah tiga hari,” nasihat Imam Hasan Al-Basri. Ia melanjutkan, tiga hari itu adalah: “Hari kelmarin yang sudah berlalu, dan kita tidak mampu lagi untuk mengubahnya. Hari esok, yang kita tidak tahu apakah kita akan masih memiliki kesempatan di dalamnya. Dan hari ini, kesempatan untuk kita melakukan amal salih. Maka, beramallah sebanyak-banyaknya…”

Saudaraku,
Semua kita pasti sangat mendambakan rahmat Allah untuk dimasukkan ke dalam syurga. Itulah kemenangan, kebahagiaan abadi, kenikmatan yang tak ada tandingannya. Kenikmatan yang membuat kita tak akan puas hanya sekadar berada di depan gerbangnya. Kenikmatan yang menjadikan kita tak akan berhenti hanya sekadar masuk beberapa langkah di halamannya. Kenikmatan agung yang membuat siapa pun takkan pernah berharap kecuali sampai ke puncaknya yang paling tinggi: syurga Firdaus. Kita bahkan berharap ingin termasuk dalam kategori kelompok ‘illiyyin‘, yaitu orang-orang yang ditinggikan. Obsesi ini tercermin dalam nasihat Rasulullah s.a.w, Continue reading