Sikap Istiqamah Seorang Pencinta

SETIAP kali seorang pencinta mendalami rahsia hikmah Allah di balik hal-hal berikut iaitu hukum-hukum Allah berupa halal haram, tanda-tanda  Allah di dalam dirinya serta alam semesta, mukjizat yang ditampilkan Allah melalui nabi-nabi-Nya serta hukuman-Nya bagi orang-orang yang zalim, kisah dua malaikat Harut dan Marut, cerita Iblis, kemandirian Allah dalam menetapkan hukum dan mencipta bahawasanya apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, semua ini membuat hatinya semakin bergantung kepada keEsaan Allah.

Kaum arif billah (orang yang mengenal Allah) sepakat dalam mendefinisikan taufiq Allah iaitu seorang pecinta mengerjakan sesuatu amal dengan cinta yang mengandungi maslahat bagi pencinta tersebut, Allah menjadikannya mampu untuk berbuat apa yang diredhai Allah di samping itu ia juga menyukai dan mencintai perbuatan tersebut, Allah berfirman :

Namun Allah membuat kamu mencintai keimanan dan menghiasi iman tersebut di hati-hati kamu dan membuatmu benci terhadap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan mereka itulah orang-orang yang memperolehi petunjuk. Hal tersebut adalah keutamaan dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (Al-Hujurat : 7 & 8.)

Allah mengabaikanmu jika ia membiarkan engkau mengikuti nafsumu. Seorang hamba terkadang diberi taufiq dan terkadang diabaikan bahkan dalam satu saat dia mengalami kedua hal tadi. Dia pun kadang mentaati Allah, mengingat-Nya, mensyukuri-Nya dengan taufiq Allah.

Kemudian kadang-kadang ia melakukan kemaksiatan, menentang Allah, membuat Allah murka, lalai dari mengingati Allah, hal ini terjadi kerana Allah mengabaikannya. Allah memberi taufiq dengan keutamaan-Nya dan rahmat-Nya. Allah mengabaikannya kerana keadilan-Nya dan kebijaksanaan-Nya.

Allah terpuji atas segala perbuatan-Nya bagi-Nya pujian yang sempurna, seorang tidak mampu mencegah apa yang terjadi pada dirinya dan semuanya adalah keutamaan Allah dan pemberian-Nya. Dia lebih mengetahui segala yang Dia lakukan kepada hamba-hamba-Nya.

Barang siapa yang baik taubatnya maka ia akan sampai pada keadaan berserah diri kepada Allah, Allah telah memuji sikap ini dan mencintainya sebagaimana yang Dia firmankan dalam al-Quran :

Berserah diri dan berpulanglah kamu kepada Tuhanmu.” (Az-Zumar : 45)

Allah berfirman :

Sesungguhnya Ibrahim benar-benar hamba yang penyabar, penghiba dan berserah diri.” (Hud : 75)

Kepasrahan wali-wali Allah dan pencinta-Nya mengandungi empat kriteria :

  1. Kecintaan kepada Allah
  2. Tunduk kepada-Nya
  3. Sentiasa menghadap-Nya
  4. Berpaling dari selain-Nya

Seorang tidak dinyatakan hamba yang berserah diri terkecuali ia melengkapi syarat ini. Penafsiran dari lafaz ‘Munib’ adalah seorang yang bersegera dalam mencari keredhaan Allah, berpulang kepada-Nya dalam segala waktu, yang bersegera mencintai-Nya. Dari segi bahasa ia bererti kembali kepada Allah.

Menurut Al-Hawari kembali kepada Allah di sini ada tiga macam :

  1. Kembali kepada Allah dalam keadaan kesolehan ataupun dalam keadaan meminta ampun dari dosa.
  2. Kembali kepada Allah sebagai perlaksanaan janji penghambaan ataupun berjanji untuk menghamba.
  3. Kembali kepada Allah dalam pelbagai perihal ataupun kembali kepada Allah untuk menyahut seruan-Nya.

Allah berfirman :

Terkecuali siapa yang bertaubat, beriman dan beramal soleh.” (Al-Furqan : 70)

Taubat tidak bermanfaat tanpa amal soleh. Taubat harus disertai amal soleh. Kembali kepada-Nya untuk menepati janji. Allah berfirman :

Barang siapa yang menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya ganjaran yang besar.” (Al-Fath : 10)

Kembali kepada Allah setelah bertaubat dengan hati yang hancur dan menderita merupakan bukti dari kembalinya ia kepada Allah sebaliknya tidak dikatakan kembali kepada Allah jika hatinya tidak hancur dan mengeluh kerana telah berbuat dosa. Hal ini suatu bukti akan kerosakan hatinya.

Ia juga harus merasa hiba akan kelalaian saudaranya seiman yang berbuat kekhilafan seolah-olah dialah yang telah berbuat salah dan ia tidak mencelanya kerana kehalusan hatinya dan kepasrahannya. Kesempurnaannya adalah ia mengejar segala keterbelakangannya dalam mentaati Allah dengan perbuatan kebaikan dan berhenti dari kenikmatan dosa kerana cinta kepada Allah.

Jiwa memiliki tiga keadaan iaitu :

  1. Keinginan melakukan dosa.
  2. Mencela perbuatan dosa.
  3. Menyesali dosa – merasa tenang bersama Tuhannya, menjawab seruan Tuhan inilah perihal yang paling tinggi dan penghambaan yang paling baik. Berjuang melawan nafsu meninggalkan kenikmatan dosa dan syahwat yang terkadang begitu berat.

Selayaknya seorang hamba memperhatikan kemurahan Allah serta mengharap-Nya sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda:

Amal tidak akan menyelamatkan seorangpun di antara kamu,” Mereka berkata: “Bagaimana pula denganmu wahai Rasulullah?” Baginda bersabda: “Tidak terkecuali aku, namun Allah meliputiku dengan rahmat-Nya dan keutamaan-Nya.” (Sahih – Muttafaq alaihi. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/122) dan Muslim di dalam “Sifatul Munafiqin” bab 17/1 dan Ahmad di dalam “al-Musnad”, 2/482, 488, 503)

Seorang pencinta selayaknya membuat hatinya sentiasa mengingat dan waspada hal ini sangat dekat dengan keadaan berserah diri sesuai dengan firman Allah.

Sesungguhnya yang mengingat adalah orang yang berserah diri.” (Ghafir : 13)

Mengingat dan berfikir harus sentiasa dilakukan oleh seorang pencinta, mengingat kepada kebaikan dari melupakan. Mengingat kedudukannya dengan berfikir seperti memperolehi suatu yang dicari setelah menelitinya.

Lebih jelasnya mengingat adalah mengambil manfaat dari nasihat, mengambil pelajaran dari segala kejadian, mengambil manfaat dari buah fikiran, mengetahui dekatnya kematian, serta saat berakhirnya kehidupan inilah yang paling bermanfaat, yakin akan hari akhir kekekalannya kemudian menganalogikan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Memahami al-Quran merupakan salah satu syarat dari orang yang berserah diri. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang pencinta daripada memahami dan mempelajari al-Quran serta sering memikirkannya. hal ini akan menyampaikan seorang pencinta kepada pemahaman akan kebaikan dan keburukan serta segala hal yang berkenaan dengannya, jalan-jalannya, sebab-sebabnya, tujuan-tujuannya, buahnya serta akibat orang yang melakukannya.

Hal ini menetapkan keteguhan keimanan di dalam hati, memperlihatkan kepada mereka kebesaran-kebesaran Allah, melihatkan pelajaran-pelajaran yang penting, mempersaksikan kepada mereka keadilan Allah, keutamaan-Nya, memperkenalkan kepadanya akan Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, af’al-Nya serta segala hal yang membuat Allah murka dan cinta, jalan-Nya yang menyampaikan kepada-Nya, keharusan para pejalan setelah sampai kepada-Nya dan menghadap-Nya, hal-hal yang mengejar dalam perjalanan serta bencana-bencana yang akan di hadapi.

Di samping itu pula al-Quran menjelaskan kepadanya mengenai nafsu, sifat-sifatnya, hal-hal yang merosak amal serta memperbaikinya, mengenalkan kepadanya jalan ahli syurga dan ahli neraka, perbuatan-perbuatan mereka, perihal mereka, ciri-ciri mereka, tingkatan-tingkatan orang yang beroleh kebahagiaan serta tingkatan orang-orang yang beroleh kesengsaraan, kesepakatan mereka dan perbezaan mereka. Ringkasnya mengenalkan kepada mereka Tuhan yang diseru, jalan yang menyampaikan kepada-Nya, serta kemuliaan yang diperolehi tatkala sampai kepada-Nya.

Kebalikannya al-Quran juga mengenalkan kepadanya ajakan-ajakan syaitan serta jalan kepadanya, hal yang disukainya berupa kehinaan dan azab setelah sampai kepadanya. Dalam memahami al-Quran dan memikirkannya akan diperoleh manfaat yang berlipat-lipat dari hal ini. Tiap kali engkau memperhatikan dan memikirkannya maka faedah terus bertambah dan tersingkap bagimu. Barang siapa yang merasakannya akan mengetahuinya.

Hal-hal yang merosak hati seorang pencinta di antara lain adalah banyak berbaur dengan manusia yang mengakibatkan lemahnya hati, berangan-angan mendapat kekuasaan bergantung kepada selain Allah inilah hal paling besar penyebab dari kerosakan hati seorang pencinta, begitu pula kecenderungan yang berlebihan kepada makanan baik itu sedikit makanan yang haram mahupun berlebihan dalam memakan makanan yang halal. Begitu pula banyak tidur menyebabkan matinya hati.

Seorang pencinta hendaknya merasakan bahawa Allah mengawasi lahir dan batinnya. Rasulullah s.a.w. bersabda ketika Jibril bertanya kepadanya mengenai Ihsan, maka baginda s.a.w. bersabda:

Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (Sahih. Awal hadith ini adalah: “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w. datang seorang lelaki kepada kami dengan rambut yang sangat rapi dan pakaiannya sangat putih. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya.”

Diriwayatkan bahawa barang siapa yang merasakan kehadiran Allah dalam hatinya maka Allah akan memelihara gerak-geri lahirnya. Imam Junaid berkata: “Barang siapa benar-benar merasakan kehadiran Allah maka ia akan takut hilangnya sesaat bersama Tuhannya.” Zunnun berkata: “Tanda seorang yang merasakan kehadiran Allah adalah mengutamakan apa yang diberitakan Allah, mengagungkan apa yang diagungkan Allah, meremehkan apa yang diremehkan Allah.” Ibrahim al-Khawas berkata: “Merasakan kehadiran Allah adalah murninya lahir dan batin untuk Allah s.w.t.”. Diriwayatkan bahawa hal yang paling utama bagi setiap diri manusia dalam jalan ini ialah muhasabah diri, merasakan kehadiran Allah, menyiasat perbuatannya dengan ilmu.

Abu Hafas berkata kepada Abu Usman an-Naisaburi: “Jika engkau duduk bersama manusia maka jadilah engkau penasihat bagi hatimu dan dirimu, janganlah kamu tertipu dengan berbaur dengan mereka, mereka memperhatikan zahirmu sementara Allah memperhatikan batinmu.” Para penunjuk jalan sepakat bahawa merasakan kehadiran Allah dalam bisikan-bisikan hati adalah suatu sebab terjaganya gerak-geri zahir.

Barangsiapa yang mengawasi Allah dalam ‘sirr‘nya (rahsianya) maka Allah akan memelihara gerak-gerinya baik lahir mahupun batin. Kehadiran hati adalah menyembah dengan nama-nama Allah berikut: Maha Mengawasi, Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Barangsiapa yang memahami nama-nama ini serta beribadat dengan tuntunan-tuntunannya tercapailah dalam dirinya keadaan kehadiran hati bersama Allah.

Jika engkau merasakan kehadiran Allah maka kamu telah ikhlas kepada-Nya. Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

Sesungguhnya suatu amal jika ia ikhlas namun tidak benar tidak diterima oleh Allah, jika ia benar namun tidak ikhlas tidak diterima oleh Allah. Amal itu diterima jika benar dan ikhlas untuk Allah, benar jika ia sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w.”

Mencintai Allah mengharuskan mencintai Rasulullah s.a.w. , seorang yang tidak berpegang teguh terhadap sunnah Rasulullah s.a.w. maka ia tersesat sedangkan orang yang berpegang teguh kepadanya akan sampai kepada darjat yang tinggi.

Keikhlasan dan kejujuran memiliki tujuan yang satu iaitu, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam ketaatan. Di lain riwayat disebutkan: “Kemurnian perbuatan dari memperhatikan makhluk. Diriwayatkan pula maksudnya ialah memelihara diri dari memperhatikan makhluk bahkan diri sendiri dan kejujuran adalah kemurnian dari memperhatikan diri.”

Orang yang tidak ikhlas tidak memiliki kegembiraan dan orang yang jujur tidak memiliki rasa kebanggaan atas diri sendiri. Keikhlasan tidak sempurna terkecuali dengan kejujuran, kejujuran tidak sempurna kecuali dengan keikhlasan dan keduanya tidak sempurna terkecuali dengan kesabaran. Diriwayatkan pula bahawa ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang pencinta baik di dalam zahir dan batinnya.

Gembira jika zahirnya lebih baik daripada batinnya. Kejujuran dalam ikhlas ialah batinnya lebih baik dari zahirnya. Diriwayatkan pula bahawa ikhlas melupakan penglihatan kepada makhluk dengan sentiasa melihat Allah. Barangsiapa yang menghiasi perbuatannya untuk orang lain sementara ia tidak layak untuk itu merupakan cela di hadapan manusia. Menurut Fudhail:

Meninggalkan amal kerana manusia gembira dan beramal kerana manusia adalah syirik, ikhlas adalah Allah menyembuhkanmu dari kedua hal tersebut.”

Imam Junaid (adalah salah seorang ahli tasawwuf. Lihat biografinya di dalam ‘Thabaqat ash-Shufiyah’, karangan asy-Sya’rani 1/27) berkata:

 “Ikhlas adalah rahsia antara Allah dan hamba, tidak diketahui oleh malaikat hingga ia boleh menulisnya tidak juga diketahui oleh syaitan hingga ia boleh merosaknya, juga tidak diketahui oleh hawa nafsu hingga ia boleh memutarbalikkannya.”

Ditanya kepada Sahl: “Apakah yang paling sukar bagi nafsu? Ia menjawab: Ikhlas kerana tidak ada bahagian bagi nafsu dalam keikhlasan.” Sebahagian mereka berkata mengenai ikhlas: “Hendaklah engkau tidak menuntut dari amalmu saksi selain Allah juga tidak ada yang membalas selain Allah.” Makhul berkata: “Jika seorang hamba mengikhlaskan dirinya selama 40 hari maka akan muncullah dari hatinya mata air-mata air hikmah terpancar pada lidahnya.” Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Jika seorang hamba ikhlas putuslah dari dirinya banyak bisikan was-was dan sifat riak.”

Al-Harawi berkata bahawa ikhlas adalah kemurnian amal dari segala noda atau amalnya tidak bercampur dengan noda keinginan-keinginan nafsu. Sebahagian kaum arif billah berkata:

Barangsiapa yang tidak sentiasa mencela dirinya maka ia tertipu. Amal harus disertai dengan rasa malu dengan sungguh-sungguh berusaha diiiringi dengan malu kepada Allah.”

Amal juga harus dibenarkan dengan ilmu serta mengikuti jejak Rasulullah s.a.w.. Ilmu yang benar serta amal yang lurus adalah timbangan makrifat yang benar. Meluruskan tujuan dengan mensucikannya dari rasa keterpaksaan atau dengan tidak memaksakan diri untuk taat kepada Allah seperti buruh yang dipaksa dan dibebani.

Kenikmatan jiwa seorang pencinta serta kelazatan ruhnya adalah dalam mentaati yang dicintainya. Sebaliknya orang yang taat kerana keterpaksaan yang terbebani dalam berkhidmat kepada Allah seolah memikul beban berat hingga kemahuannya semakin menurun serta api semangat pencariannya semakin lama semakin padam.

Tekad merupakan jiwa dari tujuan yang berkesan pada semangat serta kesungguhan dan kebenaran dalam beribadah. Hendaklah engkau menghadap Allah dengan seluruh hatimu dan menjauhkannya dari perbezaan-perbezaan pendapat dalam masalah ilmu yang kadang mengejar kemajuan hati serta mengacau kewaspadaan hati terhadap tiang-tiang ilmu syarak yang merupakan sebab hidupnya hati serta lurusnya jalanmu. Umar bin Khattab membincangkan mengenai istiqamah bahawa istiqamah iaitu keteguhanmu dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah dan tidak mundar-mandir seperti serigala.

Diriwayatkan dari Syeikh Islam Ibnu Taimiyah (lihat biografinya di dalam kitab tersendiri dari karangan yang telah ditahqiq terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut), bahawasanya ia berkata:

Teguhlah kamu dalam mencintai Allah dan menyembah-Nya dan janganlah berpaling ke kiri mahupun ke kanan.”

Istiqamah mencakupi dalam hal perkataan, perbuatan, perihal dan niat.

Istiqamah dalam hal tersebut ditujukan untuk Allah, dengan inayah Allah dan untuk menjalankan perintah Allah. Kaum salaf menganjurkan untuk berpegang teguh kepada sunnah kerana syaitan mencium hati hamba dan mengujinya jika ia melihat di sana ada celah keinginan untuk berbuat bid’ah serta keinginan untuk berpaling dari kepatuhan kepada sunnah maka ia akan mengeluarkan hati dari berpegang teguh kepada sunnah.

Jika syaitan melihat pada hati kecenderungan yang dalam kepada sunnah serta sangat menginginkannya, maka ia tidak akan berjaya menggodanya namun ia menyuruhnya dengan bersungguh-sungguh untuk menuruti nafsu melampaui batas yang normal iaitu keluar dari sunnah kepada bid’ah.

Sebahagian kaum salaf menyebutkan bahawa setiap perintah Allah akan dihalangi dengan dua godaan syaitan iaitu pertama godaan untuk meremehkan dan godaan untuk berlebihan melampauai batas.

Syaitan tidak peduli dengan apa ia berjaya menggoda anak Adam baik dengan menambah-nambahi mahupun mengurangi. Oleh sebab itu setiap kebajikan disertai dengan kesungguhan dalam kadar yang seimbang dan setiap keikhlasan disertai dengan mengikuti sunnah Nabi s.a.w.

Sebahagian sahabat berkata:

Keseimbangan dalam menjalankan perintah dan mengikuti sunnah lebih baik dari upaya yang sungguh dalam melencong dari jalan Allah dan menentang sunnah. Berusahalah semaksimum mungkin agar perbuatanmu sesuai dengan sunnah dan ajaran para nabi. Perbaikan ibadah seorang pencinta adalah dengan jalan bertawakkal kepada Allah.”

Kalau seandainya kembali kepada Allah adalah setengah dari agama maka tawakkal adalah setengah yang dari bahagian yang kedua dari agama. Sebaik-baik tawakkal serta tawakkal yang paling bermanfaat adalah dalam menjalankan kewajipan Allah, kewajipan sesama makhluk dan kewajipan bagi diri sendiri begitu pula bertawakkal dalam memenuhi maslahat agama atau mencegah mudarat yang merosak agama, inilah yang merupakan tawakkalnya para nabi iaitu tawakkal dalam menegakkan agama dan mencegah kerosakan orang-orang yang melakukan kerosakan di permukaan bumi ini.

Inilah contoh-contoh tawakkal para nabi, pewaris nabi dan manusia kebanyakan disesuaikan kadar keinginan mereka serta tujuan mereka. Di antara manusia ada yang bertawakkal untuk memperolehi harta milik ada juga yang bertawakkal untuk memperolehi sepotong roti. Barangsiapa benar tawakkalnya kepada Allah dalam mencari sesuatu, maka ia akan memperolehinya.

Jika yang ia peroleh tersebut dicintai dan diredhai Allah, maka dia akan memperolehi akibat yang baik dan jika yang diperolehinya dibenci oleh Allah maka apa yang diperolehnya dengan bertawakkal akan mendatangkan mudarat baginya.

Jika yang diperolehnya adalah hal yang mubah, maka ia telah mendapat manfaat dari tawakkal namun ia tidak mendapat tujuan dari tawakkal jika ia tidak menjadikan apa yang ia peroleh sebagai sarana untuk mentaati Allah.

Imam Ahmad berkata:

Tawakkal adalah perbuatan hati ertinya tawakkal itu dilakukan oleh hati bukan dengan perkataan lidah atau perbuatan anggota badan dan bukan pula salah satu pintu dari pintu ilmu mahupun pengetahuan.”

Kebergantungan hati kepada Allah dan bersandarnya ia kepada Allah, tenangnya ia bersama Allah termanifestasi dalam ketenangan hingga tidak tersisa goncangan kebimbangan yang menggoda untuk bergantung kepada sebab serta tidak merasa yakin terhadap sebab tersebut bahkan menanggalkan kebergantungan kepada sebab dari hatinya menggantikannya dengan ketenangan bersama Pencipta segala sebab.

Tanda dari hal ini jelasnya seorang tidak peduli dan hatinya tidak gundah akan hilangnya kenikmatan dunia yang ia cintai darinya atau tidak goyah ketika suatu yang dibenci menimpanya. Hal ini disebabkan kebergantungannya kepada Allah serta tenangnya ia berserta Allah telah memeliharanya dari rasa takut dan berharap kepada sebab-sebab.

Perihalnya seperti seorang yang berjumpa dengan musuh yang besar yang tidak ada daya upaya baginya untuk melawan musuh tersebut lantas iapun melihat benteng yang terbuka, Tuannya mengizinkannya masuk ke dalam benteng tersebut. Benteng tadi pun ditutup hingga ia dapat menyaksikan musuhnya yang berada di luar dari dalam benteng hingga ia tidak lagi merasa takut.

Seseorang arif billah berkata:

Orang yang bertawakkal kepada Allah seperti anak bayi yang tidak mengetahui tempat apapun juga untuk berlindung selain payu dara ibunya.”

Begitu pula halnya dengan seorang yang bertawakkal tidak mengetahui tempat berlindung selain kepada Allah dengan berbaik sangka kepada-Nya, menyerahkan hatinya kepada Allah, menyerahkan segala urusan kepada-Nya, inilah yang merupakan roh daripada tawakkal.

Dia menemukan dalam keadaan ini kebergantungan yang murni, ketenangan yang sangat kepada Tuhan melebihi keadaannya sebelum berserah diri kepada Allah inilah hakikat dari tawakkal serta buah yang paling besar darinya. Jika seorang bertawakkal dia akan rela dengan segala apa yang dilakukan oleh Allah sebagai wakilnya.

Basyar al-Hafi berkata:

Ada seorang yang berkata bahawa ia bertawakkal kepada Allah namun ia berdusta kerana jika seorang benar bertawakkal kepada Allah, maka ia akan rela atas segala apa yang dilakukan Allah kepadanya.”

Seorang yang bertawakkal bergantung dengan nama-nama Allah, perbuatan-Nya, sifat-sifat-Nya kerana ia menjadi orang yang arif billah hingga tawakkalnya semakin kuat. Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal sebagaimana Ia mencintai orang-orang yang bersyukur, berbuat baik,b ersabar dan bertaubat. Seorang pencinta yakin kepada Allah perhatikanlah firman Allah ketika berfirman kepada ibu Musa a.s. dengan firman-Nya:

Jika engkau khuatir akannya maka hanyutkanlah ia disungai dan janganlah kamu takut serta bersedih.” (Al-Qasas : 7)

Ibu Musa a.s. pun berbuat demikian inilah ia keyakinan kepada Allah. Kalaulah tidak sempurna keyakinannya kepada Allah, maka ia tidak akan menghanyutkan bayinya dan buah hatinya ke sungai. Keyakinan seorang pencinta adalah tidak menuntut bukti akan keesaan Allah, kuasa-Nya, af’al-Nya dan kehendak-Nya. Berserah diri adalah kemurnian kejujuran yang mendekati kedudukan kenabian. Manusia yang paling sempurna berserah dirinya adalah manusia yang paling sempurna keyakinannya dan pembenarannya.

Sumber :
Prof Syeikh Mutawally Sya’rawi
“Mencintai Allah”

4 thoughts on “Sikap Istiqamah Seorang Pencinta

  1. saya amat suka kan semua artikel ilmiah awak ni…harap dapat tambahkan lagi sebagai bahan bacaan bermanfaat…pastikan setiap artikel ada sumber rujukan sah…statistik…dan benar2 ilmiah…sekian syukran alaik….(^_^)

  2. salam romadon kareem

    terima kaseh

    terasa diri ini terlalu hina dan kerdil

    terima kaseh untuk blog yang bermanfaat.

    moga dilindungi ALLAH slalu

    p/s: mohon izin copy artikel ni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s