Dosa lahir dan dosa batin

Kita perlu menumpahkan lebih banyak perhatian terhadap jiwa, batin dan hati. Keliru besar orang yang menganggap bahwa kemaksiatan lahir atau dosa fizikal (dzunub al jawarih) lebih berbahaya dari kemaksiatan batin atau dosa hati (dzunub al quluub). Salah besar orang yang mengatakan bahwa keterpelesetan kaki, lebih berbahaya dari keterpelesetan hati.

Saudaraku,
Ada banyak orang yang diuji melalui kemaksiatan lahir, tapi kemudian batinnya tersadar telah melakukan kemaksiatan lahir tersebut. Ada banyak orang yang khilaf melakukan dosa fizikal, tapi setelah itu hatinya terhenyak lantaran telah, melakukan dosa fizikal itu. Melalui kesadaran batin dan hati tersebut, ia berusaha melepaskan diri dari dosa dan kemaksiatan lahir. Lalu, keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tapi, bagaimana bila kita adalah orang yang secara lahir tampak sebagai orang yang soleh. Bila kita secara luaran terlihat dan dikenal orang lain sebagai sosok orang yang tunduk dan taat kepada Allah SWT. Sementara dalam hati dan batin kita, tersimpan tumpukan dosa dan kemaksiatan batin yang mampu membinasakan semua kebaikan lahir kita?

Ini bukan meremehkan kemaksiatan fizikal dan dosa lahir. Tapi seseorang memang harus mempunyai perhatian besar membersihkan hati dan batinnya, lebih dari yang lainnya. Seseorang harus mampu memegang kendali hati dan batin dirinya, sebelum ia menjadi penanggung jawab persoalan banyak orang.

Inilah pesan yang terkandung dalam wasiat terkenal Umar bin Khattab r.a., “tafaqqahuu qabla an tasuuduu” — perdalamlah fiqih-mu sebelum kalian memimpin. Kata fiqih dalam ungkapan Umar bin Khattab bukanlah kata fiqih yang diartikan faham ilmu dan hukum agama seperti yang difahami dalam istilah kita di zaman belakangan. Para salafusoleh generasi pertama tidak memahami fiqih dari sisi ilmu pengetahuan yang memuat pada teori dan konsep hukum fiqih yang muncul belakangan. Orang yang faqih atau ahli dalam fiqih, dalam pandangan para salafusoleh dahulu, utamanya adalah orang yang mampu memahami dan mempraktikkan keikhlasan, tawakkal, tawadhu’, dan berbagai unsur kendali hati lainnya. Bukan hanya orang yang memahami selok-belok hukum suatu masalah.

Saudaraku,
Ibnu Mas’ud r.a. pernah menyinggung soal pentingnya aspek penguasaan batin ketimbang aspek penguasaan lahir. Suatu ketika di hadapan sejumlah sahabatnya, ia mengatakan,

“Kalian pada zaman ini memiliki sedikit khatib (orang yang tampil berbicara di hadapan orang banyak) tapi mempunyai banyak ulama’. Kelak akan datang suatu zaman, banyak khatib tapi mereka memiliki sedikit ulama’.”

Kerana mengerti mendalam tentang masalah penguasaan batin seperti inilah, Zaid bin Arqam pun diriwayatkan pernah menolak untuk diangkat menjadi komandan perang pada saat perang Mu’tah. Zaid bin Arqam menolak melanjutkan posisi kepemimpinan perang setelah tiga orang sahabat yang diamanahkan sebagai pemimpin perang gugur sebagai syahid. Ketika itu, Zaid justeru meminta kaum Muslimin waktu itu untuk memilih orang lain menjadi komandan perang. Penolakan Zaid sudah tentu bukan penolakan seorang pejuang yang pengecut dan luruh nyalinya setelah melihat dahsyatnya peperangan ketika itu. Kerana catatan sejarah perang Mu’tah menegaskan tak ada lagi sejumput rasa takut yang tersisa bagi pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan Mu’tah, di mana satu orang pejuang Muslim harus berhadapan dengan 70 orang musuh. Zaid hanya mengetahui agungnya kepemimpinan itu dibanding keadaan dirinya. Itulah yang menjadikannya merendah, lalu meminta agar ada orang lain yang menerima tugas itu.

Saudaraku,
Lihatlah juga, bagaimana sikap Khalid bin Walid r.a. yang dengan tenang meninggalkan posisinya sebagai komandan perang kerana perintah khalifah Umar bin Khattab r.a.. Padahal Khalid telah membukukan kemenangan pasukannya di berbagai kesempatan. Tapi Khalid adalah orang yang faqih dalam urusan hati. Ia sangat mengerti posisi dirinya, dan bagaimana mengemban amanah yang diberikan kepadanya.

Mengertilah kita dengan ungkapan singkat dan indah yang disampaikan Ibnu Atha’,

“Pendamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan. Tak ada sesuatu yang tumbuh dari yang belum dipendam.”

Maksudnya, pohon yang tumbuh besar itu pasti bermula dari benih yang awalnya di tanam dan dipendam di bawah tanah. Maka, selama kita belum mampu mengubur dan memendam wujud keinginan kita, selama kita belum mampu mengikhlaskan secara mutlak seluruh amal kepada Allah, selama kita belum dapat menyamakan keadaan diri antara diingat dan disebut orang dengan tidak diingat dan tidak disebut orang lain, mustahil kita berupaya menumbuhkan pohon amal yang besar dan memberi buah yang berguna bagi orang lain.

Saudaraku,
Semoga Allah SWT mengurniakan kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu kerana Dia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu kerana Dia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dilihat oleh orang atau tidak dilihat. Agar kita tetap lekat merasakan bahwa Allah selalu berada di samping kita, melihat dan mengawasi kita.

Apa yang dilakukan banyak salafusoleh, merupakan isyarat kuat tentang masalah ini. Mereka, apabila ingat mati, kerap menangis. Jika mengingat kuburan, mereka juga kerap menangis. Dan bila mengingat hari kebangkitan, mereka juga menangis. Jika mengingat syurga dan neraka, mereka gementar ketakutan, dan jika mereka ingat bahwa amalnya kelak akan ditampakkan di hadapan orang banyak, tidak sedikit dari mereka yang pengsan.

Saudaraku,
Mari tatap bersama jalan yang terhampar di hadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Apa yang sudah kita lakukan saat ini saudaraku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s