Fakir Berfikir

Bagaimana dapat aku lupakan pandangan sepasang mata itu. Raut dari sepasang mata yang kuyu, lesu dan tersembunyi seribu kepahitan dan penderitaan yang bertahun ditanggung. Kerut-kerut dari wajah tua lelaki itu tidak beriak sedikitpun tatkala kereta-kereta pantas berlari mengejar arus kota yang padat dan sesak itu. Debu yang berterbangan hinggap ke tubuh kurusnya yang entah makan entahkan tidak. Di satu sudut, terkulai anak-anak kecil yang tidak berdosa.

Menangis hatiku.
Luluh.

Itulah pandangan-pandangan biasa yang kulewati hampir dua minggu aku di sana. Sehingga hari-hari terakhir, aku jatuh sakit. Ku akui aku seorang yang terlalu pendiam dan selalu betah memendam apa yang ku bebani sendirian, namun kali ini hatiku seakan tidak dapat menanggung kesedihan.

Duhai Tuhan, betapa agung dan halusnya segala rahsia penciptaan dan perjalanan tali-tali takdir-Mu. Bukakanlah pintu-Mu, jernihkan mata hati kami agar dapat kami membaca akan Kelembutan-Mu.

Tuhan kami Yang Maha Pengasih,

Engkau bukan hanya pengasih,
tapi kami tahu Engkau juga sangat mudah
merasa kasihan kepada kami
yang kurang mampu tapi tetap berusaha,
yang tertindas tapi tetap berlaku adil,
yang terperdaya tapi tetap berlaku jujur,
dan yang hampir putus harapan
tapi tetap memelihara iman.

Tuhan Yang Maha Sejahtera,

Selamatkanlah kami, damaikanlah hati kami,
dan sejahterakanlah hidup kami.

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s