Masa yang ditinggalkan sudah panjang, masa yang tinggal makin sedikit

Seorang penyair berkata,

“Kalau dua puluh hari dari bulan Sya’aban telah lewat, teruskan minum malammu sampai siang. Jangan kamu minum dengan gelas kecil sebab waktu yang ada sudah semakin sempit..”

Makna syair tadi adalah apabila dua puluh hari dari bulan Sya’aban telah berlalu bererti Ramadan telah dekat, sebuah bulan yang di dalamnya manusia di larang makan dan minum. Kerana itu, sebelum bulan Ramadan datang, ia hendaknya makan dan minum dari tempat besar agar kenyang selama kesempatan masih ada.

Menurut para ulama’, maksud dari petikan syair di atas adalah, kalau dirimu sudah berusia empat puluh tahun sadarlah dan bergegaslah melakukan amal-amal soleh baik di waktu siang mahupun malam. Jangan buang waktu sedikit pun sebab usia sudah tua, waktu semakin sempit, dan saat perjumpaan dengan Allah bertambah dekat.

Amal di usia senja berbeza dengan amal orang yang masih muda. Orang yang masih muda biasanya takkan menyia-nyiakan masa muda, semangat dan kekuatannya. Namun demikian, masih ada peluang baginya.

Sementara dirimu sudah menghabiskan masa mudamu, mempergunakan sebahagian besar usiamu dalam menghambakan diri pada dunia, dalam permainan yang sia-sia, serta berpaling dari Tuhan. Kalau dirimu masih menunda amal sampai masa pikun tiba, itu akan mengacaukan akal dan anggota badanmu. Akhirnya, ketika dirimu ingin bersungguh-sungguh dalam beramal, sayang sekali kekuatan itu sudah tidak ada. Oleh kerana itu, persiapkan masa mudamu untuk menghadapi masa tua, waktu luangmu untuk menghadapi waktu sibuk, dan hidupmu untuk menghadapi kematian. Jangan sia-siakan masa sihat. Sibukkan semua waktumu dengan zikir dan taat. Serta, tekunlah dalam mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Allah SWT berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-sebenar taqwa. Dan janganlah sampai kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali-Imran :102)

Wahai hamba Allah, beramallah sekuat tenagamu dalam umur yang tersisa ini dengan berzikir dan istighfar disertai rasa takut dan cemas. Tak ada ibadah yang lebih ringan darinya. Sebab, dirimu mampu melakukan itu semua, pada saat berdiri, duduk, berbaring, mahupun saat sibuk dan sakit. Hendaknya lidahmu senantiasa basah dengan zikir pada Allah. Pergunakan lisanmu untuk banyak berzikir. Jangan sampai kalbumu lalai dari Allah agar lidahmu senantiasa basah akibat sering berzikir dan membaca istighfar.

Rajinlah selalu membaca doa atau zikir yang mudah menurutmu. Kekuatanmu untuk membacanya merupakan bentuk pertolongan Allah. Kalau dirimu mampu berzikir, itu berkat kurnia-Nya semata. Sementara kalau kamu berpaling, itu kerana murka dan marah-Nya. Oleh kerana itu, beramallah dan bersungguh-sungguhlah dalam beramal. Tekunlah berzikir dalam setiap keadaan sampai Allah membukakan hijab dirimu. Ketahuilah bahwa lalai ketika beramal lebih baik dari meninggalkan amal.

Orang yang perlu takkan berhenti meminta dan akan terus menghampiri setiap pintu. Ia dengan tekun berdiri di depan pintu untuk meminta. Oleh kerana itu, tekunlah berdiri di depan pintu Tuhan dengan zikir dan taat. Perbanyaklah berdoa dan mengemis kepada-Nya. Kerana, Allah senang terhadap hamba-Nya yang tekun dan sebaliknya Dia benci terhadap hamba-Nya yang sombong.

Allah SWT berfirman:

“Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah  pasti Aku kabulkan.’ Sesungguhnya orang-orang sombong yang enggan beribadah dan berdoa kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir : 60)

Orang yang memohon ampunan Tuhan ibarat orang tua yang ditinggal mati anaknya sehingga ia menjadi sangat sedih. Mungkinkah dalam kondisi semacam itu, ia masih sempat mengunjungi calon pengantin, bergembira, pergi ke majlis walimahnya, dan ikut berpesta ria? Tak mungkin itu dilakukan. Pastilah ia sibuk dengan kematian anaknya dan terus mengenangnya. Demikian pula semestinya yang dilakukan oleh orang yang tak mendapat rahmat Allah. Yang harus ia pikirkan adalah bagaimana memperoleh redha-Nya.

Wahai saudaraku, gunakanlah sebaik mungkin waktu-waktumu untuk beramal. Tekun dan tuluslah dalam mengerjakannya. Kalau dirimu ingin menentang Tuhan, tinggalkanlah nikmat dan kurnia-Nya. Lalu lakukanlah apa yang kamu mau. Layakkah kamu memakan nikmat-Nya seraya menentang Tuhan dengan nikmat tersebut?

Dirimu ibarat orang yang duduk di meja jamuan raja. Orang itu memakan jamuan tersebut, tetapi sambil mencela dan menentang raja. Tentu, tak mungkin lepas dari nikmat-Nya. Sebab, segala sesuatu berasal dan kembali kepada-Nya. Dialah Zat Yang Maha Menguasai.

Seluruh yang di langit dan di bumi berasal dari kebaikan dan kemurahan-Nya. Pantaskah kamu memakan kurnia Tuhan yang terdapat di air dan di udara serta menikmati kesihatan dan keselamatan, sementara dirimu menentang dan memusuhi-Nya? Bahkan, berbagai jenis pelanggaran kamu lakukan. Setiap waktu kamu melakukan satu macam kesalahan. Semua yang dibangun selama bertahun-tahun hancur berantakan hanya dalam sekejap mata.

Bila hendak menggunakan pendengaran, penglihatan, lisan serta anggota badan yang lain sesaat saja, malulah kamu kepada Tuhan serta sesalilah dosa yang kamu lakukan. Sekarang, ikatlah anggota badan yang kamu pergunakan dan pakailah ia untuk taat kepada Allah setelah digunakan ia untuk maksiat. Agar dengan begitu, dirimu mampu menikmati taat setelah manisnya maksiat.

Wahai yang menghancurkan ketaatan, Allah tidak membuatmu papa dan miskin kecuali agar kamu meminta keperluanmu kepada-Nya, menghadapkan wajahmu kepada-Nya, banyak berzikir, tekun berdoa, serta menyebut syukur dan pujian bagi-Nya. Kemiskinan yang membuatmu dekat kepada Allah lebih baik daripada kekayaan yang menjauhkanmu dari-Nya.

Wahai orang tua, kamu telah menghabiskan usiamu. Pergunakanlah sisa umur yang ada dengan melakukan amal kebajikan. Dirimu telah putih beruban dan yang putih itu tidak pantas membawa kekotoran. Orang yang menyadari ajalnya telah dekat pastilah segera menyiapkan bekal. Orang yang mengetahui bahwa kebaikan orang lain tak bermanfaat baginya, pastilah sungguh-sungguh berbuat baik untuk dirinya sendiri. Orang yang meninggal tanpa sempat muhasabah diri, pastilah ia merugi.

Ketahuilah jika usia muda telah disia-siakan, sangat layak kalau di saat tua usia itu dipelihara. Hal tersebut seperti seorang ibu yang mempunyai sepuluh anak. Jika sembilan orang anaknya telah mati lalu yang tersisa hanya satu, bukankah ia akan menghabiskan kesendiriannya bersama anak satu-satunya itu?

Dirimu telah menyia-nyiakan sebahagian usiamu. Oleh kerana itu, jagalah sisanya yang tinggal sedikit. Demi Allah, usiamu tidak diukur dari semenjak lahir, tetapi diukur dari semenjak kamu mengenal Allah. Jangan dihabiskan tarikan nafasmu pada selain taat kepada Allah. Sebab, tarikan nafas tersebut bagaikan emas dan permata. Mungkinkah orang yang berakal akan membuang permatanya di jalan-jalan dan melemparkannya ke tempat sampah?

Wahai saudaraku, usahakanlah untuk hadir dalam majlis-majlis ilmu di berbagai masjid dan tempat agar akal fikiranmu bertambah. Meskipun usiamu pendek ia akan menjadi panjang berkat adanya iman, rasa takut, tadabbur dan kesadaran.

Rujukan :
Ibnu Atha’illah al-Sakandari
“Bahjat an-Nufus“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s