Firasat yang benar

Khazanah Islam meliputi seluruh potensi yang ada pada diri manusia. Termasuk di dalamnya adalah potensi manusia untuk berfirasat, sesuatu yang kata sebahagian orang adalah fikiran tidak rasional. Akan tetapi, se-rasional apapun diri manusia, pasti pernah terlintas di hatinya suatu firasat atas sesuatu keadaan.

Naluri firasat mampu membuatnya merasakan getaran kegelisahan hati orang lain, mampu merasakan kedatangan bahaya yang mengancam dirinya, mampu merasakan alur fikiran lawan bicaranya, dan banyak lagi contoh yang dapat disebutkan. Selanjutnya, firasat tersebut menjadi pegangan baginya untuk bertindak, untuk melangkah dan untuk memilih. Namun demikian harus dicatat, bahwa apapun yang dimunculkan oleh firasat, tidak boleh dijadikan landasan hukum syar’i. Sejauh manakah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mengulas potensi firasat dan bersikap terhadapnya? Mari kita semak tulisan berikut.

Tiba-tiba saja Uthman bin Affan r.a. berkomentar saat ia didatangi seorang pemuda. “Saya didatangi orang yang tampak bekas zina pada matanya,” kata Uthman. Orang itu terkejut. Namun ia membenarkan perkataan Uthman, bahwa dalam perjalanannya menuju majlis itu, ia memang terpesona oleh kecantikan seorang wanita. “Apakah ada wahyu setelah Rasulullah SAW?”. “Tidak ada” tukasnya. Uthman mengatakan, “Tidak, ini hanya pandangan, petunjuk dan firasat yang benar.”

Firasat, menurut Ibnul Qayyim adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati hamba-Nya yang soleh. Cahaya itu menjadikan seorang hamba dapat menduga sesuatu yang akan terjadi pada dirinya, atau menjadikannya dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. (Ar-Ruh, 234).

Meski sama-sama lintasan hati, firasat tentu bukan su’u dzon atau buruk sangka. Firasat tumbuh dari kebersihan hati kerana kedekatan seseorang kepada Allah. Sebaliknya buruk sangka tumbuh dari kekotoran hati dan kejauhan hubungan dengan Allah. Ibnu Abbas r.a., memaknai kata mutawassimin dalam firman Allah: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda (mutawassimin).” Menurut Ibnu Abbas, mutawassimin adalah mutafarrisin, atau orang-orang yang memiliki firasat.

Pandangan seperti itulah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah SAW,

“Takutlah kalian dengan firasatnya orang mu’min kerana ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam sebuah hadith Qudsi yang sahih, Rasulullah SAW menyebutkan,

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku yang lebih Aku cintai dari melakukan apa yang telah Aku wajibkan. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan perintah yang sunnah, kecuali Aku pasti mencintainya. Dan bila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul. Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dengan-Ku lah ia mendengar, melihat, memukul dan berjalan.”

Hadith qudsi ini sekaligus menyebutkan korelasi yang kuat antara kedekatan seorang hamba dan Allah, dengan cahaya Allah yang akan menjadikannya mampu memiliki firasat yang benar.

Rasulullah SAW mampu mengetahui sahabat yang solat di belakangnya, seperti menyaksikan mereka di hadapannya. Rasulullah SAW juga dapat melihat Baitul Maqdis yang jauh secara terperinci dari tempatnya di Makkah. Ia juga dapat mengetahui kondisi para sahabatnya dalam perang Mu’tah, ketika ia berada di Madinah. Rasulullah SAW juga mengetahui ketika Najasyi wafat di Habasyah, padahal Rasulullah SAW berada di Madinah. Atas firasat itulah, Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya untuk melakukan solat ghaib atas wafatnya Najasyi.

Umar bin Khattab pun mengetahui kondisi pasukannya di Nahawand saat berperang melawan pasukan Persia, padahal Umar berada di Madinah. Itu yang menyebabkan secara tiba-tiba, khalifah pertama Islam itu mengatakan, “Pasukan! Naik ke gunung… pasukan naik ke gunung…”

Itulah firasat orang beriman. Ketika ketundukan dan kedekatan kalbu pada Yang Maha Kuasa, melahirkan pandangan yang bersih dan jernih.

Wallahu’alam.

One thought on “Firasat yang benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s