Wasiat Ikhlas

Aku wasiatkan kepada diriku dan dirimu, wahai saudaraku, untuk selalu bertaqwa kepada Allah. Jagalah sir-mu agar selalu mengutamakan kehendak Allah di atas semua kehendak lain. Curahkan segenap tenaga dan kemampuanmu untuk melaksanakan berbagai amal yang dapat mendekatkanmu kepada Allah. Sesungguhnya amal adalah harta simpanan (khazanah) yang bahagian paling kecil darinya tidak dapat disamakan dengan dunia berikut isinya. Oleh kerana itu, jangan sampai sedetik pun waktumu berlalu tanpa amal yang dapat mendekatkanmu kepada Allah, amal yang dapat engkau jadikan sebagai simpanan di sisi-Nya.

Jika engkau telah mengetahui bahwa semua amal yang mendekatkanmu kepada Allah adalah permata-permata yang tiada bandingnya, maka jagalah dan jangan engkau menyia-nyiakannya. Amal akan menjadi sia-sia jika ditujukan untuk manusia dan kenikmatan duniawi, bahkan, wal’iyadzu billah, akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kehinaan, celaan dan penyesalan di akhirat. Seseorang yang beramal dengan niat demikian tidak akan memperoleh kenikmatan duniawi dan pujian manusia. Seseorang yang menampakkan amalnya untuk memperoleh kedudukan dan pujian berarti ia telah berbuat riya‘ dan menyia-nyiakan amalnya. Dan itu merupakan jenis riya‘ yang paling buruk dan merugikan.

Orang yang menujukan amalnya untuk Allah, tetapi ia juga ingin agar Allah memberikannya pakaian keikhlasan sehingga ia dipuji, diberi kenikmatan dan dihormati oleh teman-temannya, maka ia juga telah menyia-nyiakan amalnya. Sebab, ia ingin dikenal sebagai orang yang suka beramal dengan ikhlas. Ia tidak merasa cukup jika hanya diketahui oleh Allah saja, tidak merasa cukup dengan pengamatan Allah terhadap amal dan keikhlasannya, tidak menjadikan Allah dan apa yang ada di sisi-Nya sebagai satu-satunya tujuan amalnya. Orang semacam ini tidak akan memperoleh pahala. Sebab, ia masih memperhatikan kepentingan-kepentingan duniawi.

Allah Ta’ala mewahyukan:

“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (Asy-Syura: 20)

Seorang hamba yang beramal dengan ikhlas untuk kepentingan akhirat akan dirahmati dan diberi pahala oleh Allah. Hamba semacam ini akan berdoa agar Allah mewujudkan keinginannya. Dan ia tidak menjadikan amalnya sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan duniawinya.

Allah Ta’ala mewahyukan:

“Barangsiapa menghendaki pahala di dunia saja, (maka ia akan merugi), kerana di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.” (An-Nisa’: 134)

Seseorang yang amalnya bersih dari keinginan-keinginan duniawi, hanya ingin memenuhi hak rububiyyah dan berusaha memperoleh negeri yang telah dipersiapkan Allah bagi para kekasih-Nya, maka ia akan mencapai dua kebaikan (dunia dan akhirat). Basirah-nya (mata hati) menjadi bersih sehingga ia dapat melihat dua negeri dan dua kemuliaan. Jarak yang jauh pun akan dilipat untuknya. Ia akan memasuki syurga ma’rifat dan menemukan berbagai hal yang menyenangkan hatinya. Ia tidak lagi memandang manusia sebagai manusia, tetapi sebagai cahaya yang di dalamnya terdapat berbagai rahsia (asrar). Itulah syurga yang disegerakan oleh Allah untuk para ahli ma’rifat (kaum ‘arifin). Mereka menikmati syurga itu dengan menyaksikan keindahan (jamal) Allah pada semua yang mereka dengar, lihat, cium atau rasakan. Barangsiapa telah memasuki syurga ini, ia tidak akan merindukan syurga (akhirat).

Namun, bila ia memperoleh penyingkapan (kasyf) ta’rif ar-Rahmani, barulah ia sadar bahwa syurga ma’rifat jauh berbeza dengan syurga akhirat, seperti perbezaan antara dunia dan akhirat. Ia pun segera bertekad menuju negeri akhirat dengan memanfaatkan segenap yang ada padanya. Untuk kedua kalinya ia akan kembali (inabah) ke akhirat dengan ruh dan sir-nya. Inilah inabah yang paling khusus, iaitu inabah-nya hati dan nafs. Di balik ini terdapat berbagai ilmu dan rahsia yang tidak pantas disingkapkan.

Orang yang memasuki syurga ma’rifat akan menyaksikan apa yang tidak ada dalam pengetahuan manusia. Tetapi seseorang tidak akan dapat memasuki syurga ini sebelum melindungi hatinya dari keinginan untuk mencari perhatian manusia.

Orang yang bukan ahlul yaqin atau ahlul haqqul yaqin tetapi menginginkan syurga ini, maka ia harus menyembunyikan amal-amal solehnya, atau mengaburkan amal tersebut dengan perbuatan-perbuatan mubah sehingga ia dapat menjaga keikhlasan dan sikap sidq-nya. Namun, ia tidak boleh mengaburkan amal solehnya dengan perbuatan haram. Sebab, penyucian tidak akan berhasil tanpa lebih dahulu menyingkirkan kotorannya.

Jika engkau telah memahami hal ini, maka berpalinglah dari segala kenikmatan dunia. Sebab, tidak lama lagi rumah-rumah akan musnah, bekas dan jejak akan terhapus. Jangan engkau gunakan nafasmu untuk mencari dunia. Sebab, jika ini engkau lakukan, engkau akan musnah dengan putusnya nafasmu. Tetapi, simpankanlah nafasmu di tempatnya yang aman di sisi Allah yang akan melipatgandakan pahala dengan kelipatan di luar kemampuan akal manusia. Engkau akan memperoleh kebahagiaan, kedudukan tinggi, kemuliaan, kenikmatan, tinggal di syurga, di sisi Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Wasiat Habib Hasan bin Saleh al-Jufri kepada Habib Umar bin Zein bin Abdullah al-Habsyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s