Jangan membantah kebijaksanaan Allah

Pada hari Ahad pagi di Ribath, 3 Syawal 545 H, Syeikh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menyampaikan ceramahnya sebagai berikut:

Menentang Allah ketika takdir-Nya menyapa kita merupakan tanda kematian agama, kematian tauhid, kematian tawakal dan ikhlas. Hati seorang mukmin tidak mengenal kata “mengapa” dan “bagaimana”, tapi ia hanya berkata bahwa nafsu memang cenderung menentang. Maka barangsiapa yang menginginkan kebaikan, hendaknya ia memerangi nafsu itu sampai ia merasa aman dari kejahatannya. Nafsu itu amat jahat. Tapi, bila engkau mampu menjinakkannya, ia akan menjadi baik. Ia akan taat dan meninggalkan semua kemaksiatan. Ketika itu dikatakanlah kepadanya:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (Al-Fajr: 27-28)

Maka kemudian, ketaqwaan seorang mukmin akan menjadi benar, keburukannya akan hilang, dan ia tidak lagi bergantung kepada makhluk apapun. Saat itu, ia boleh dinisbatkan kepada bapanya, Nabi Ibrahim a.s., kerana beliau adalah orang yang telah bebas dari kongkongan hawa dan nafsunya. Ia mampu berjalan dengan hati yang tenang. Berbagai makhluk datang kepadanya dan menawarkan diri untuk membantunya, tetapi ia mengatakan, “Aku tidak perlu bantuan kalian. Pengetahuan-Nya mengenai keadaanku telah cukup bagiku sehingga aku tak perlu meminta kepada yang lain.” Ketika penyerahan dirinya dan kepasrahannya itu benar, Allah pun lantas memerintahkan kepada api,

“Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69)

Pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla kepada orang yang bersabar bersama-Nya itu tidak terhingga banyaknya. Begitu pula kenikmatan yang akan diberikan-Nya di akhirat tidaklah sanggup dihitung banyaknya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Seberat apapun beban yang dipikul oleh seseorang, hal itu tidak akan tersembunyi dari pengawasan Allah sedikitpun. Oleh kerana itu, bersabarlah sejenak saja, sebab kalian telah mengalami kelembutan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya selama bertahun-tahun. Keberanian itu adalah sabar dalam sesaat. Allah Ta’ala berfirman,

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Allah senantiasa bersama kita. Dia memberi pertolongan dan kemenangan. Oleh kerana itu, bersabarlah bersama-Nya. Ingatlah senantiasa kepada-Nya. Jangan melalaikan-Nya, dan jangan pula melalaikan apa yang akan terjadi setelah kematian. Sebab tak ada gunanya lagi kita sadar bila ajal sudah di depan kita. Ingatlah kepada-Nya sebelum bertemu dengan-Nya. Ingatlah sebelum ingatan kita tidak berguna. Jangan sampai engkau menyesal di saat penyesalan tak ada lagi gunanya. Perbaiki hati kita, kerana apabila ia baik, maka baik pula seluruh keadaan kita. Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Pada manusia itu terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh badan kerananya. Dan apabila ia rosak, maka rosaklah seluruh badannya. Ketahuilah, itulah dia hati.” (H.R. Bukhari)

Kebaikan hati dicapai dengan taqwa, tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bertauhid, dan ikhlas dalam beramal. Sedang kerosakannya terjadi akibat tak adanya hal itu semua. Hati itu bagaikan burung di dalam sangkar, permata di dalam kotak perhiasan, bagaikan harta di dalam lemari. Maka yang dinilai adalah burung itu, bukan sangkarnya. Yang diperhatikan adalah permata itu, bukan kotaknya. Yang berharga adalah harta itu, bukan lemarinya.

Ya Allah, sibukkan anggota badan kami dengan mentaati-Mu, dan penuhilah hati kami dengan makrifat kepada-Mu. Sibukkan kami sepanjang hidup kami, di malam dan siang kami. Susulkan kami kepada orang-orang soleh yang terdahulu. Berikan kami rezeki seperti rezeki yang telah Engkau berikan kepada mereka. Iringilah kami sebagaimana Engkau mengiringi mereka. Amin.

Wahai manusia! Serahkan diri kita seutuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana orang-orang soleh terdahulu telah berserah diri kepada-Nya, agar Dia bersama kalian sebagaimana halnya Dia bersama mereka. Jika kalian menginginkan Allah bersama kalian, maka sibukkan diri kalian dalam ketaatan kepada-Nya, sabar bersama-Nya, dan ridha atas semua kehendak-Nya. Orang-orang soleh itu bersikap zuhud terhadap dunia, dan mengambil bahagian mereka seperlunya saja atas dasar taqwa dan wara’. Kemudian, mereka mencari akhirat dengan amalannya, membangkang terhadap nafsu mereka, dan mentaati Tuhan mereka.

Wahai anak muda! Nasihatilah dirimu terlebih dahulu, baru menasihati orang lain. Hendaknya engkau memerhatikan hal-hal khusus dalam dirimu. Jangan beralih ke yang lain jika dirimu masih memerlukan pembaikan. Nah, bagaimana engkau akan mengetahui cara menyelamatkan orang lain sedangkan engkau adalah seorang yang buta? Bagaimana engkau dapat menuntun orang lain? Sesungguhnya yang dapat menuntun manusia adalah orang yang dapat melihat. Orang yang dapat menyelamatkan mereka dari lautan adalah seorang perenang ulung. Orang yang dapat mengembalikan manusia kepada Allah adalah orang yang mengetahui-Nya. Adapun orang yang tidak mengetahui-Nya, maka bagaimana ia akan menunjukkan jalan kepada-Nya?

Janganlah engkau mengomentari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla. Cintailah Dia dan beramallah kerana-Nya, bukan kerana yang lain. Takutlah kepada-Nya, bukan kepada selain Dia. Lakukan ini dengan hati, bukan dengan lisan. Renungkanlah dalam kesunyian, bukan dalam keramaian. Apabila tauhid itu ada dipintu, dan syirik berada di dalam rumah, maka itu adalah kemunafikan sejati.

Cuba saksikan! Lisanmu menyatakan taqwa, sedang hatimu berdosa. Lisanmu mengucapkan syukur, sedang hatimu berpaling. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,

“Hai anak cucu Adam, kebaikan-Ku turun kepadamu, tetapi keburukanmu naik kepada-Ku.”

Cuba lihat! Engkau mengaku dirimu adalah hamba-Nya, namun yang engkau taati bukan Dia. Jika benar engkau hamba-Nya, tentu engkau akan setia kepada-Nya dan memusuhi musuh-Nya. Seorang mukmin yang benar keyakinannya tidak akan mentaati nafsu, syaitan, dan keinginannya (hawanya). Ia tak kenal dengan syaitan itu hingga tidak mentaatinya. Ia tak peduli dengan kejayaan dunia, maka ia tak perlu menghambanya. Bahkan ia memandang dunia itu hina dan mencari akhirat adalah utama. Maka apabila ia berhasil meninggalkan dunia dan berhubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, ia akan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas dalam setiap waktunya. Ia mendengar firman Allah Ta’ala,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Maka jangan sekali-kali menyekutukan Sang Khaliq dengan makhluk. Esakan Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah pencipta segala sesuatu, dan sesuatu itu berada dalam kekuasaan-Nya.

Wahai para pencari sesuatu selain Allah! Apakah engkau tidak menggunakan akal? Adakah sesuatu yang tidak terdapat dalam khazanah kekayaan Allah? Allah Ta’ala berfirman,

“Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya…” (Al-Hijr: 21)

Duhai anak muda! Tidurlah di bawah pancaran takdir yang bersandar pada kesabaran yang mengalungkan ketaatan, yang tunduk beribadah dengan menunggu jalan keluar. Jika engkau dalam keadaan demikian, maka Tuhan yang menetapkan takdir akan mengucurimu dengan anugerah dan kurnia-Nya yang tidak pantas engkau minta dan cita-citakan.

Wahai kaum muslimin, setujuilah ketetapan takdir dari-Nya, jangan melawan. Sebagaimana aku menerima takdir yang membawaku kepada yang Mahakuasa. Marilah kita merendah diri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, begitu juga dengan ketetapan takdir dan segala kehendak-Nya. Mari, kita tundukkan kepala kita, baik secara tersirat mahupun tersurat.

Engkau akan minum dengan penuh kenikmatan dari lautan ilmu-Nya, makan dari hidangan anugerah-Nya, dan berlindung dengan rahmat-Nya. Tapi, ini hanya untuk orang-orang khusus, satu orang yang terpilih dari ribuan orang di semua suku bangsa dan kabilah.

Wahai anak muda, bertaqwalah kepada Allah Ta’ala. Tetaplah berada pada hukum-hukum agama, tentanglah nafsu dan hawa (keinginan), syaitan dan temam-temanmu yang jahat. Seorang yang beriman tak pernah lemah dalam berjihad melawan mereka. Mereka tak pernah menyarungkan pedangnya, justeru senantiasa waspada. Tidurnya hanya sejenak seperti para wali. Kebanyakan mereka menjalani kehidupan yang fakir. Mereka bicara bila perlu saja, selebihnya diam seperti orang bisu. Hanya Allah yang membuat mereka bicara di dunia, sebagaimana kelak Dia membuat bicara anggota badan lainnya di akhirat kelak. Memang, bila Dia menghendaki suatu perkara, maka Dia Mahakuasa untuk mewujudkannya. Jika Dia berkehendak akan ada peringatan dan khabar gembira kepada manusia, sebagai alasan untuk memintai pertanggungjawaban mereka, maka Dia membuat bicara para nabi dan rasul. Dan ketika Dia pun menugaskan kepada para ulama’ dengan ilmu mereka, lalu membuat mereka bicara dengan perkataan yang baik bagi manusia sebagai pengganti para utusan Allah itu. Nabi s.a.w. bersabda,

“Ulama’ itu adalah pewaris para nabi.”

Wahai kaum muslimin, bersyukurlah kepada Allah atas segala nikmat-Nya. Lihatlah bahwa nikmat-nikmat itu datang dari-Nya. Sebab Dia berfirman,

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah…” (An-Nahl: 53)

Lantas, di manakah rasa syukur kalian, wahai orang-orang yang memperoleh nikmat silih berganti, duhai orang-orang yang melihat nikmat-Nya itu datang dari selain-Nya! Terkadang kalian merasa bahwa berbagai nikmat itu datang bukan dari-Nya. Terkadang kalian merasa kalau nikmat yang kalian kecap itu hanya sedikit, kemudian kalian pun mencari apa yang tidak ada pada kalian, dan terkadang pula kalian menjadikannya sebagai sarana untuk berbuat kemaksiatan.

Wahai para pemuda, kalian memerlukan sikap wara’, sehingga kalian terbebaskan dari segala kemaksiatan dan dosa-dosa. Kalian pun senantiasa merasa diawasi oleh Allah (muraqabah) yang mengingatkan kalian bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu. Kalian amat memerlukan hal tersebut sampai itu semua melekat pada diri kalian dalam kesendirian. Kemudian, kalian perlu untuk memerangi hawa, nafsu, dan syaitan. Kerosakan sebahagian besar manusia itu lantaran kesalahan-kesalahan mereka, dan kerosakan orang-orang zuhud kerana keinginan-keinginan nafsu.

Kerosakan orang-orang yang mengabdikan diri sepenuhnya dalam beribadah itu disebabkan kerana fikiran dan bisikan-bisikan hati dalam khalwatnya, dan kerosakan orang-orang yang benar keimanannya itu hanya dalam beberapa saat. Maka mereka menyibukkan diri untuk menjaga hati mereka, sebab mereka itu tidur di depan pintu Raja. Mereka berdiri di tempat pijakan da’wah. Mengajak manusia untuk mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka senantiasa mengajak kepada setiap hati dengan mengatakan, “Hai hati, hai ruh, hai manusia, hai jin, hai orang-orang yang menginginkan Sang Raja! Bergegaslah kepada-Nya dengan kaki-kaki hatimu, dengan kaki-kaki taqwamu, tauhidmu, makrifatmu, dengan kewara’anmu yang tinggi, dengan kezuhudanmu, terhadap dunia dan akhirat, dan terhadap selain Tuhan.” Inilah kesibukan kaum tersebut. Yang mereka inginkan hanyalah memperbaiki manusia. Keinginan mereka itu memenuhi langit dan bumi, dari ‘Arasy hingga muka bumi.

Duhai para pemuda, tinggalkanlah hawa dan nafsu. Jadilah engkau bumi yang dipijak oleh kaki-kaki kaum itu. Jadilah tanan di hadapan mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup…” (Ar-Ruum: 19)

Allah telah mengeluarkan Ibrahim a.s. dari kedua orang tuanya yang mati kerana kekufuran mereka. Orang mukmin adalah orang yang hidup, sedang orang kafir adalah orang yang mati. Orang yang bertauhid itu hidup, sedang orang yang musyrik itu mati. Oleh kerana itu, Allah Ta’ala berfirman, “Yang paling pertama kali mati dari makhluk-Ku adalah iblis.” Ya, kerana iblis mendurhakai Allah, maka ia telah mati akibat kedurhakaannya itu.

Ini adalah akhir zaman. Pasar kemunafikan telah tampak, begitu pula pasar kedustaan. Janganlah kalian duduk bersama orang-orang munafik, pendusta dan para dajjal. Sadarlah! Nafsumu itu adalah munafik, pendusta, kafir, pendosa, musyrik. Lalu, bagaimana dapat engkau duduk bersamanya. Maka ingkari ia, jangan menyetujuinya. Kekanglah ia, jangan lepaskan. Penjarakan ia, namun lindungi haknya yang harus ia peroleh. Kalahkan ia dengan perlawanan-perlawanan (mujahadah). Adapun hawa nafsu itu, maka tunggangilah ia, jangan biarkan ia menunggangimu. Sedangkan tabiat, jangan engkau menemaninya. Sebab ia bagaikan bayi yang tidak memiliki akal. Bagaimana dapat engkau belajar dari seorang bayi dan menerima pendapatnya? Adapun syaitan, maka ia adalah musuhmu dan musuh bapamu, Adam a.s.. Bagaimana engkau dapat tenang kepadanya dan menerima sesuatu darinya, padahal antaramu dan dia ada hutang darah dan permusuhan lama? Jangan merasa aman darinya, sebab ia telah membunuh bapa dan ibumu. Jika ia berhasil menguasaimu, ia pasti membunuhmu sebagaimana ia telah membunuh mereka. Maka jadikan taqwa sebagai senjatamu. Jadikan tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla, muraqabah, wara’ dalam kesunyian, kebenaran iman, memohon pertolongan kepada-Nya sebagai bala tenteramu. Senjata dan bala tentera inilah yang dapat mengalahkan dan menghancurkannya, memporak-porandakan pasukannya.

Wahai pemuda, gabungkan antara dunia dan akhirat. Letakkan keduannya pada satu tempat. Lalu engkau menyendiri kepada Tuhanmu dengan hati yang bebas dari dunia dan akhirat. Jangan menghadap kepada-Nya kecuali dengan meninggalkan selain-Nya. Jangan terikat dengan makhluk sehingga menghalangimu dari Sang Khaliq. Putuskan segala hal yang berhubungan dengan ini, dan tanggalkan semua itu. Apabila engkau telah menguasai hal itu, maka jadikan dunia itu untuk nafsumu, akhirat itu untuk hatimu dan Tuhan untuk batinmu.

Wahai anak muda, bertaubatlah dari dosa-dosamu dan bergegaslah meninggalkannya untuk menuju Tuhanmu. Apabila engkau bertaubat, maka hendaknya lahir dan batinmu bertaubat. Sebab taubat itu adalah hati yang berkuasa. Taubat adalah amalan hati setelah anggota badan disucikan dengan menjalankan hukum syara’. Raga memiliki amal dan hati juga memiliki amal. Apabila hati itu keluar dari sebab-sebab dan ketergantungan kepada makhluk, maka ia akan mengharungi lautan tawakal dan makrifat kepada Allah. Ia akan meninggalkan sebab dan mencari Pencipta sebab. Apabila ia telah sampai di tengah lautan ini, maka di sana ia akan berucap,

“(Yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku.” (As-Syu’ara’: 78)

Maka ia pun diberi petunjuk dari satu pantai ke pantai lain, dari satu tempat ke tempat lain. Hati orang yang mencari Allah itu dapat menempuh berbagai jarak dan meninggalkan semuanya di belakangnya. Apabila pada sebahagian jalan ia merasa takut akan binasa, maka imannya segera muncul kemudian ia menyemangatinya, sehingga api ketakutan dan kegelisahan itu menjadi padam. Sebagai gantinya, datang cahaya kesenangan dan kegembiraan mendekatinya.

Wahai anak muda! Apabila penyakit datang kepadamu, maka hadapilah dengan kesabaran, dan tenanglah hingga ubatnya datang. Apabila ubat itu telah datang, maka sambutlah dengan tangan kesyukuran. Jika engkau dalam keadaan seperti ini, beerti engkau berada dalam kehidupan dunia.

Wahai pemuda, jangan sampai perhatianmu hanya tercurah kepada makan, minum, pakaian, isteri saja. Sebab semua ini adalah keinginan nafsu dan tabiat. Lalu, mana keinginan hati dan batin? Keinginan mencari Allah ‘Azza wa Jalla? Hendaknya apa yang kamu inginkan itu ialah apa yang penting bagimu. Semestinya keinginanmu adalah kepada Tuhanmu dan apa-apa yang ada di sisi-Nya. Dunia ini ada penggantinya, yaitu akhirat. Makhluk itu ada penggantinya, yaitu al-Khaliq. Setiap kali engkau meninggalkan sesuatu dari kehidupan dunia ini, maka akan didatangkan penggantinya, yang lebih baik darinya di akhirat. Bayangkan sisa umurmu hari ini, lalu persiapkan dirimu untuk akhirat, menunggu kedatangan malaikat maut. Bagi orang-orang yang seperti itu, tempat berpesta pora bagi mereka. Bahkan ketika ghairah cinta mereka kepada Allah membara, semua itu tidak mereka pedulikan. Sampai akhirnya mereka tidak merasa perlu kepada dunia dan tidak juga kepada akhirat.

Duhai para pendusta! Engkau mencintai Allah ‘Azza wa Jalla ketika memperoleh nikmat. Namun apabila cubaan datang, engkau lari dari-Nya. Seakan-akan Allah tidak pernah menjadi kekasihmu. Sesungguhnya jati diri seorang hamba itu menjadi jelas ketika mendapatkan cubaan. Apabila cubaan demi cubaan datang dari Allah dan engkau tetap tegar, maka beerti engkau mencintai Allah. Tetapi jika engkau berubah maka akan jelaslah kebohonganmu, dan pengakuanmu sebelumnya menjadi batal dan sirna.

Seseorang datang kepada Rasulullah s.a.w. kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, aku mencintaimu.” Maka baginda menjawab, “Bersiap-siaplah menjadikan kefakiran sebagai jubah.” (H.R. Al-Haitsami)

Cinta Allah dan Rasul-Nya itu diiringi dengan kefakiran dan cubaan. Oleh kerana itu, sebahagian orang soleh mengatakan, “Setiap cubaan hidup itu adalah untuk mengukur kesetiaan, agar tidak hanya sebatas pengakuan. Jika tidak demikian, tentu setiap orang akan mengaku cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka ketegaran dalam menghadapi cubaan dan kefakiran dijadikan ukuran bagi cinta ini.”

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (Al-Baqarah: 201)

Sumber :
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s