Jiwa yang stabil

“Sungguh hati ini berduka dan air mataku mengalir kerana kepergianmu. Akan tetapi aku tidak akan mengucapkan selain apa yang Allah redhai.”

Itulah kalimat-kalimat yang terbit dari lisan Rasulullah s.a.w. saat Ibrahim, puteranya, meninggal dunia.

Di lain kesempatan, Rasulullah s.a.w. melihat seorang ibu yang sedang meraung-raung menangisi kematian anaknya. Rasulullah s.a.w. menasihatinya, “Bersabarlah dan carilah redha Allah.” Dengan nada marah – kerana tidak menyadari bahwa yang memberinya nasihat adalah Rasulullah s.a.w. – si wanita itu menyahut, “Engkau tidak merasakan apa yang aku rasakan.” Setelah sadar siapa sesungguhnya orang yang menasihatinya itu, segera ia menghampiri Rasulullah s.a.w. seraya mengatakan, “Saya tadi tidak tahu bahwa yang menasihati saya itu adalah engkau.” Jawaban Rasulullah s.a.w. adalah, “Sabar itu justeru pada benturan pertama.”

Apa yang diteladankan oleh Rasulullah s.a.w. itu adalah gambaran jiwa yang stabil: sabar, penuh perhitungan, pengendalian penuh terhadap emosi. Dan dalam nasihatnya kepada ibu yang kehilangan anaknya itu baginda menjelaskan bahwa kesabaran yang sebenarnya adalah kemampuan mengendalikan perasaan, emosi sejak saat-saat pertama terjadi ujian itu.

Antara kita dan permasalahan ada ruang yang bebas kita isi. Ruang itu bernama hati. Jika hati dibiarkan kosong, atau diisi dengan nilai-nilai yang busuk seperti iri, dengki, cinta dunia, persaingan tidak sihat, kesyirikan, maka tindakbalas terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul adalah kegelisahan, kecemasan, bahkan kekecewaan. Inilah orang-orang yang jiwanya labil.

Sebaliknya, manakala ruang hati itu diisi dengan iman, maka tindakbalas terhadap warna-warna cabaran hidup – apa pun bentuknya- selalu positif. Inilah ciri orang yang jiwanya stabil. Allah SWT menggambarkan orang seperti itu dengan firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am, 6:82)

Orang yang beriman selalu mengembalikan segala persoalan yang dihadapinya dalam hidup ini kepada Allah SWT:

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan; “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada Allah jualah kami kembali).” (Al-Baqarah, 2:155-156)

Itulah orang-orang mukmin sejati. Diri dan kehidupannya tidak akan dikuasai atau dikendalikan oleh emosi, stres dan depresi. Tidak ada rasa takut yang menghantuinya. Firman Allah SWT:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada akan merasa khawatir dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Yunus, 10:62-63)

Bahkan hati mereka selalu dipenuhi ketenteraman dan kedamaian.

“Ingatlah bahwa dengan zikir kepada Allah hati-hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’du, 13:28)

Mengulas ayat di atas, Sayyid Qutub mengatakan, “Hati-hati mereka menjadi tenang sebab merasakan adanya hubungan dengan Allah, nyaman berada di dekat-Nya, merasa aman dalam lindungan-Nya. Ia merasa tenteram kerana jauh dari kegalauan akibat menyendiri dan dari kebingungan perjalanan. Dengan iman mereka mengetahui hikmah dari penciptaan, permulaan, dan akhir kehidupan ini. Mereka merasa tenteram kerana merasakan adanya perlindungan dari segala yang akan menyakitinya dan dari segala bahaya. Semua itu hanya akan terjadi manakala Allah memperkenankan. Dan apabila ujian itu tiba ia menerimanya dengan penuh rasa redha dan sabar. Ia merasa tenteram kerana mendapat rahmat-Nya berupa hidayah, rezeki, dan perlindungan-Nya di dunia dan akhirat. Ketenteraman -akibat mengingat Allah- yang ada pada hati orang-orang beriman itu merupakan hakikat yang dalam yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang hatinya yang secara langsung berinteraksi dengan iman, hingga terhubung kepada Allah, mereka dapat merasakannya. Namun mereka tidak dapat melukiskannya dengan kata-kata kepada orang lain yang tidak merasakannya. Sebab perasaan tenang itu tidak dapat ditafsir dengan kata-kata. Ia mengalir dalam hati dan kemudian menyebabkan hati itu merasa nyaman, damai, dan tenteram. Ia merasa bahwa di alam semesta ini ia tidaklah menyendiri tanpa teman. Sebab segala yang ada di sekitarnya adalah teman. Sebab mereka semua adalah karya Allah SWT.”

Beliau melanjutkan, “Tidak ada orang yang lebih celaka di muka bumi ini selain dari orang yang tidak memiliki ketenteraman jiwa dalam kedekatan dengan Allah. Tidak ada orang yang lebih celaka dari orang yang terputus hubungannya dengan alam sekitar akibat ia memutuskan hubungan dengan Pencipta alam itu. Tidak ada yang lebih celaka dari orang yang hidup tanpa tahu mengapa ia ada? Kemana harus ia pergi? Mengapa ia mengalami segala yang ia rasakan dalam hidup ini! Tidak ada yang lebih celaka dari orang yang berjalan di muka bumi dalam keadaan serba takut oleh segala sesuatu akibat tidak adanya hubungan antara dirinya dengan segala sesuatu yang ada di alam ini. Tidak ada yang lebih celaka di dalam kehidupan ini selain dari orang yang menempuh jalan sendirian terlunta-lunta di padang yang luas. Ia harus berjuang sendirian tanpa penolong, tanpa penuntun, dan tanpa pembantu.”

Bagaimanapun ada saat-saat dalam kehidupan ini di mana seseorang tidak mungkin bertahan kecuali jika ia bersandar kepada Allah dan merasa tenteram dengan perlindungan-Nya, betapapun ia memiliki kekuatan, keteguhan, dan kekukuhan. Dalam kehidupan ini ada saat-saat di mana segala kekuatan itu tidak punya makna sama sekali. Lalu tidak ada yang mampu bertahan selain orang yang merasa tenteram dengan Allah SWT. ”Ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Orang yang beriman selalu melibatkan Allah SWT dalam menghadapi segala permasalahan. Jadi antara dirinya dengan permasalahan, sebesar apa pun, ada Allah yang Maha Besar dan mampu menyelesaikan segala persoalan. Kerananya, orang yang beriman selalu berpikir positif, berbicara positif dan bertindak positif. Rasulullah s.a.w bersabda:

“Sungguh mengagumkan urusan orang beriman itu. Sesungguhnya segala urusannya baginya menjadi kebaikan. Jika ia menerima karunia (hal-hal yang menggembirakan) ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia mendapatkan musibah ia bersabar. Dan hal itu menjadi kebaikan bagi dirinya.” (Riwayat Al-Bukhari)

Bila dalam ayat-ayat dan hadits di atas dijelaskan bahwa keimanan yang hakiki akan melahirkan ketenteraman maka sebaliknya, kegelisahan, keresahan, depresi, stres, atau kecewa menandakan adanya cacat atau kekurangan dalam keimanan. Cacat-cacat inilah yang menyebabkan hati tidak mampu bertindakbalas dengan rangsangan-rangsangan secara positif. Oleh kerana itu, setelah menegaskan bahwa manusia memiliki sifat dasar berkeluh-kesah, Allah SWT memaparkan sikap dan perilaku yang mampu menekan kelemahan jiwa agar menjadi stabil dan mampu bersikap seadanya. Firman-Nya;

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan solat. Yang mereka itu tetap mengerjakan solatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bahagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mahu meminta). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabb-nya. Kerana sesungguhnya azab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara solatnya.” (Al-Ma’arij, 70:19-34)

Di sinilah arti penting dari proses tazkiyatunnafs (pensucian jiwa) yang berkesinambungan. Kestabilan jiwa seseorang bukanlah ditandai dengan kehidupan yang datar seperti tidak ada gejolak perasaan atau sekadar kekecewaan. Bukan itu. Kestabilan jiwa seseorang diukur oleh kemampuan mengelola jiwa dalam bertindakbalas terhadap persoalan-persoalan kehidupan. Sehingga kehidupannya terselia oleh sabar, tawakkal, dan syukur dan bukannya oleh hasrat-hasrat liar. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (Ash-Shams, 91: 7-9)

Orang yang jiwanya stabil dengan iman dan selalu disucikan dengan amal ibadah akan menjadi pemenang dalam kehidupan dunia dan meraih kejayaan hakiki di akhirat: mendapat redha dan syurga-Nya:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (Al-Fajr, 89:27-30)

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s