Teruslah Larian Sai’e-mu

Melakukan amal ibadah, amal salih, dan seluruh perbuatan baik secara terus menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri yang kukuh. Menata batu-bata satu persatu secara terus menerus, hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan yang megah. Inilah amal yang dicintai Allah, yakni melakukan kebaikan dan ibadah tanpa henti, meskipun hanya sedikit.

Beramal sedikit demi sedikit tetapi terus menerus, juga ibarat menanam benih pohon, memberinya pupuk dan menyiraminya dengan air. Pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Pupuk dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan. Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-menerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tak layu. Alhasil, jiwa terus terangkat menuju derajat yang lebih baik, menapaki tangga-tangga ke arah kesempurnaan.

Para sahabat dahulu merasakan kegelisahan yang amat dalam bila pada dirinya terdapat indikasi tidak mampu istiqamah dalam kebaikan. Mereka diterpa rasa bersalah yang sangat besar ketika dalam dirinya dirasa ada kondisi yang menjadikannya tak melakukan amal baik secara terus menerus. Perhatikanlah bagaimana suasana dan gelombang kegelisahan luar biasa yang menerpa sahabat Rasulullah s.a.w. yang bernama Handzalah. Ia merasa tak mampu untuk istiqamah dan menjaga lestari ruhaninya saat tidak bersama Rasulullah s.a.w.

Suatu saat, Handzalah yang juga salah satu penulis Rasulullah s.a.w. itu mendatangi Abu Bakar r.a. dengan melontarkan perkataan yang mengejutkan. “Handzalah telah berlaku munafiq.. Handzalah telah berlaku munafiq…” katanya. Handzalah mengungkapkan bagaimana perilakunya berubah. Di kala ia bersama Rasulullah, ia benar-benar seperti melihat syurga dan neraka di depan mata. Tapi, jika ia berada jauh dari Rasulullah, pulang ke rumah dan bertemu keluarga, kondisi jiwanya pun berubah. Abu Bakar tersentak dan mengatakan, “Demi Allah, ini harus kita sampaikan kepada Rasulullah kerana aku juga mengalami hal yang sama.”

Akhirnya, mereka berdua pergi menghadap Rasulullah s.a.w. dan menceritakan permasalahan tersebut. Tenang sekali Rasulullah s.a.w. mendengar kegelisahan dua sahabatnya itu. Setelah selesai mengungkapkan masalahnya, Rasul mengatakan,

“Demi Allah, seandainya kalian terus menerus dalam kondisi seperti ketika kalian bersamaku, dalam ingatan kalian, niscaya malaikat akan menyalami kalian di atas pembaringan kalian dan ketika kalian sedang berjalan. Akan tetapi wahai Handzalah… sesaat demi sesaat…” (HR. Muslim)

Semangat istiqamah dalam beramal dengan tetap memelihara kualiti beramal. Pesan itu yang dapat kita tangkap dari kedua peristiwa yang dialami Abu Bakar dan Handzalah tadi. Istiqamah dalam beramal memang penting. An Nawas bin Sam’an r.a. mengatakan sabda Rasulullah s.a.w. yang menjelaskan sifat istiqamah ibarat sebuah jalan yang lurus (siraat).

“Allah memberi perumpamaan suatu jalan yang lurus, di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka. Pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, “Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu diperingatkan, ‘Celaka engkau, jangan membuka, sungguh jika engkau membuka pasti akan masuk’. Siraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah. Sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dan seruan di atas sirat ialah seruan nasihat dalam hati tiap orang muslim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i).

Istiqamah tentu tidak akan mudah dilakukan. Siapapun yang ingin konsisten mencapai sebuah tujuan besar, pasti harus melewati berbagai penderitaan, kesulitan dan keadaan yang tidak disukai. Tanpa istiqamah, tanpa kesinambungan, dan tanpa terus-menerus dalam beramal, matlamat suatu pekerjaan tidak akan berhasil sesuai harapan.

Di sinilah kita memerlukan petunjuk menerapkan amal secara bijaksana. Bahwa sifat istiqamah dan kesinambungan suatu amal sulit diterapkan kecuali dengan memilih jalan pertengahan, tidak berlebihan, dan tidak melampaui kemampuan untuk melakukannya. Rasulullah s.a.w. mengaitkan istiqamah dengan sikap tidak berlebih-lebihan. Perhatikanlah sabdanya yang berbunyi,

“Luruskanlah dirimu dan janganlah berlebih-lebihan, ketahuilah bahwa tiada seorangpun yang dapat selamat berdasarkan amalnya semata-mata, para sahabat bertanya, “Walaupun dirimu sendiri ya, Rasulullah?”, baginda menjawab, “Demikian pula aku tidak dapat selamat kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya atas diriku.” (HR. lbnu Majah)

Bersikap lurus dan sikap tidak berlebih-lebihan. Semuanya adalah sejalan, saling terkait dan memerlukan. Istiqamah takkan mampu berlaku bagi seseorang yang melakukan amal secara berlebihan. Di sisi lain, amal yang melewati kapasiti seseorang pun pasti akan mematahkan amal. Yang dituntut dari kita adalah, jika tidak mampu melakukan istiqamah hendaknya mendekatinya. Kerana itu segala amal harus dilakukan secara sederhana dan pertengahan.

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) kerana orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Baihaqi dari Buraidah)

Sungguh bijaksana sekali nasihat yang lahir dari lisan mulia Rasulullah s.a.w.,

Ahabbul a’maali ilallahi adwamuha wa in qalla.” Artinya, perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manfaatkanlah usia yang masih tersisa dengan bijaksana dan sebaik mungkin. Yang terpenting dalam hidup ini adalah terus menerus melakukan ketaatan dan amal kebaikan sampai ajal menjemput. Janganlah berasa lemah dan berputus asa, walau apapun keadaannya, kerana redha Allah itu tidak ternilai harganya.

Semoga Allah memberi kita hikmah dalam menghayati kecekalan Hajar, seorang wanita syurga yang ditinggalkan sendirian di lembah asing dan sunyi. Tiada bekalan zahir menjamin diri hanya keteguhan dan keyakinan kepada Tuhan, Penguasa Seluruh Alam yang tidak berbelah bagi.

Teruslah berjalan dan berlari. Namun dari saie-mu jangan sesekali berhenti. Dengan rahmat Tuhanmu, engkau pasti akan dikurniakan pancaran zam-zam yang sangat engkau rindui.

“Wahai manusia! Sesungguhnya engkau sentiasa berpenat-lelah (menjalankan keadaan hidupmu) dengan sedaya upayamu menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (Al-Quran, 84: 6)

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s