Di Penghujung Rindu

Bertemu Allah, di hujung malam, tentu dan pasti, memberi makna spiritual yang mendalam. Bahkan inilah utamanya, pada pengertian penghambaan, ia memberi penekanan makna yang lebih mengesankan. Pengharapan itu bahkan, melayang jauh, nun jauh di sana, pada hamparan syurga Allah yang dijanjikan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

“Sesungguhnya, di syurga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang perlu makan, menyebarkan salam, serta mendirikan solat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam.” (HR Ibnu Hibban, dalam sahihnya).

Al-Qur’an bahkan dengan jelas menyebutkan,

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa adalah ditempatkan di dalam beberapa taman Syurga, dengan matair-matair terpancar padanya. (Keadaan mereka di sana) sentiasa menerima nikmat dan rahmat yang diberikan kepadanya oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka di dunia dahulu adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Mereka sentiasa mengambil sedikit sahaja: masa dari waktu malam, untuk mereka tidur.” (Al-Quran, Adz-Dzariyat: 15-17)

Dari hujung malam itulah benih-benih pengharapan ditanam, disemai, dan ditumbuh suburkan. Selain tentu saja, pengharapan akan ampunan, maaf dan penjagaan dari dosa. “Hendaklah kalian mendirikan qiyamullail. Sebab itu adalah jalan orang-orang salih sebelum kalian, sarana bertaqarrub kepada Tuhan kalian, penghapus kesalahan, dan pelindung dari tindakan dosa.”

Di sana, di hujung malam itulah kita menjaga stamina harapan. Sebab di sana kita belajar mengeja yang tak tampak bagaimana menjadi seperti nyata. Belajar merasa bagaimana yang tak terlihat menjadi seperti ada. Tentang akhirat, syurga itu, juga kengerian neraka itu.

Kekuatan spiritual itulah yang akan memberi kita ‘kaca mata’ batin, yang menjaga kita, esok harinya, siang atau petangnya, untuk tidak silau dengan segala gemerlap dunia. Sebab, nyatanya, yang gemerlap itu yang dapat diraba, dirasa dan dilihat mata. Mempesona jutaan orang, bahkan menenggelamkannya.

Hanya yang rindu berjumpa dengan Allah, saat turun ke langit bumi, yang mata batin-nya akan mengalahkan mata kepalanya. Akan selalu terlihat di depan matanya kehidupan nun jauh di sana, kampung akhirat yang pasti dan abadi selamanya. Ia mungkin memegang sebahagian dunia, kesenangannya yang halal, ladangnya, kuda-kuda pilihan, juga pasangannya yang halal. Tapi hatinya tidak ditambat di sini, di taman dunia ini. Tapi ia ikatkan di sana, di pengharapan kampung akhirat sana.

Di setiap penghujung malam, pada sepertiga terakhirnya, selalu dan setianya, Allah menanti hamba-hamba-Nya yang hendak memohon atau meminta. Sebuah kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Bila pagi mulai bercahaya, bertanyalah setiap kita, adakah peraduan semalam, di hadapan Allah Yang Maha Penyayang?

Ini tak sekadar soal membuka mata, bangun, lalu solat atau bermunajat di malam yang gelap. Lebih dari itu, ini adalah kadar yang upaya kita ukur dengan jujur, sejauh mana sesungguhnya daya tahan kita mengharungi hidup, yang sebahagian nafasnya harus kita hirup dari hujung malam-malam itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s