Kebersamaan Kita

Betapa indahnya kebersamaan kerana Allah, persaudaraan kerana keimanan kita. Tali yang mengikat kita adalah kesatuan pemahaman dan kesamaan tujuan. Kebersamaan ini, yang pernah disinggung dalam beberapa sabda Rasulullah s.a.w. Bahawa setiap Muslim yang mengikhlaskan kecintaannya kepada saudaranya kerana Allah, tanpa alasan lainnya, maka ia akan memperoleh pahala agung dan keridhaan dari-Nya. Allah Maha Besar. Bagi-Nya segala puji syukur sepenuh langit dan bumi, yang menuntun kita hingga di sini, sampai saat ini.

Saudaraku,
Dengarkanlah hadis-hadis dari kekasih Allah SWT berikut ini, “Sesungguhnya Allah berfirman di hari kiamat, “Di mana orang-orang yang saling mencintai kerana Keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dengan naungan-Ku di saat tak ada naungan lain kecuali naungan-Ku.” (HR Muslim). Pada kesempatan lain, Rasul s.a.w. mengatakan, “Barangsiapa yang ingin merasai manisnya keimanan, hendaklah ia mencintai seseorang, yang tidak ia cintai kecuali kerana Allah.” (HR Ahmad)

Dan dalam hadis yang lain baginda bersabda, “Tidaklah seorang hamba Allah mencintai hamba Allah kerana Allah, kecuali ia akan dimuliakan oleh Allah.” Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapat naungan-Nya di hari itu.

Jangan berputus asa dan jangan berhenti untuk terus membersihkan diri, kerana sebenarnya, di sanalah inti kekuatan ikatan kebersamaan kita. Kekotoran hati akan membuat kebersamaan kita menjadi gersang dan mudah rapuh. Sementara kebersihan hati membuat kebersamaan ini menjadi sejuk dan semakin kuat.

Saudaraku,
Mari bersihkan diri dengan bertaubat. Amatilah sebahagian pelajaran yang disampaikan Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam kitab Al-Isti’dad Liyaumil Ma’ad tentang 10 sikap yang harus dilakukan seorang yang bertaubat. Iaitu mengucapkan istighfar secara lisan, menyesali perbuatan dosa di dalam hati, memutuskan perilaku dosa dari badan, bertekad untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan, mencintai akhirat, membenci dunia, sedikit bicara, sedikit makan dan minum untuk menggali ilmu, banyak beribadah, dan sedikit tidur.

Menurut Imam Ibnu Hajar, empat sikap pertama, yakni mengucapkan istighfar secara lisan, menyesali perbuatan dosa di dalam hati, memutuskan perilaku dosa dari badan, bertekad untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan, merupakan syarat yang harus dilakukan oleh siapa pun yang bertaubat.

Sedangkan sikap kelima dan keenam, yakni cinta akhirat dan membenci dunia adalah hasil yang wajar dan buah dari taubat yang bersih dan tulus kepada Allah. “Orang yang bertaubat dengan benar kepada Allah adalah orang yang menggantungkan hatinya pada Ar-Rahman dan Pemberi Nikmat yang tak pernah terlintas dalam fikiran manusia. Kerana itulah orang yang bertaubat pasti zuhud terhadap dunia. Ia takkan tertipu lagi seperti sebelumnya. Ia tidak bersedih jika ditinggalkan dunia dan tidak gembira jika didatangi oleh dunia. Ini disebabkan dominannya perasaan tergantung pada akhirat dalam hatinya,” demikian hurai Ibnu Hajar.

Sikap ketujuh, bukan berarti diam dan bisu lalu tak berhubungan dengan manusia. Tapi maksudnya adalah sangat hati-hati dalam melakukan apa pun yang dikeluarkan dan dimasukkan melalui mulut orang yang bertaubat tidak akan berbicara kecuali bila pembicaraannya dapat menjadikannya diridhai Ar-Rahman dan ia sangat takut kepada Allah setelah bertaubat. Ibnu Hajar mengatakan, “Ia mungkin akan lebih banyak berzikir yang mampu mendatangkan cinta Allah kerana ia merasa tidak punya waktu cukup untuk membicarakan selain-Nya.”

Sikap kelapan dan kesembilan, yaitu sedikit makan dan minum serta banyak beribadah, sikap yang saling terkait. Sedikit makan dan minum adalah ciri perhatian orang yang memperhatikan kesihatan tubuhnya. Ia tahu bahawa orang yang sakit takkan mampu melakukan ibadah. Makanan adalah salah satu sebab yang banyak menimbulkan sakit, dan bila dilakukan tanpa kawal akan mengurangi semangat beribadah.

Sikap yang terakhir, sedikit tidur, adalah kerana orang yang bertaubat merasakan waktunya sangat sedikit dan usianya tidak panjang. Terlalu banyak waktu yang terbuang untuk memperbanyak tidur. “Mereka adalah orang yang berfikir akan mengurangi tidur sejauh yang ia mampu melakukannya kemudian menyibukkan diri dengan memperbanyak amal ibadah dan taqarrub kepada Allah,” jelas Imam Ibnu Hajar. Adakah kita termasuk orang yang memiliki sikap-sikap pelaku taubat sejati seperti dijelaskan Imam Ibnu Hajar?

Saudaraku,
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menyebutkan, ada orang yang diberikan Allah syurga di dunia kemudian ia memiliki simpanan kenikmatan syurga di akhirat. Mereka disebut oleh Ibnul Qayyim sebagai raja akhirat dan orang yang paling bahagia di dunia. “Mereka orang-orang yang hatinya memandang kefakiran menjadi kekayaan bersama Allah. Memandang kekayaan sebagai kefakiran tanpa Allah. Memandang kemuliaan menjadi kehinaan tanpa Allah. Memandang kehinaan menjadi kemuliaan bersama Allah. Memandang siksaan sebagai kenikmatan bersama Allah. Ia tak melihat kehidupan sebagai kebaikan, kecuali dengan bersama Allah.”

Sebaliknya, hidup menjadi kematian, kesedihan, kesengsaraan dan kegelisahan selama tidak bersama Allah. Itulah orang-orang yang mendapatkan dua syurga. Syurga dunia yang didahulukan, dan syurga hari kiamat di akhirat.

“Ya Allah, saksikan kebersamaan kami bersama-Mu dijalan ini. Kuatkan kami untuk tidak bercerai-berai saat mengalami kelapangan dan kesenangan. Satukan kami ketika menghadapi kesempitan dan kesulitan. Kami ingin memiliki sifat seperti yang diucapkan utusan-Mu, pemimpin kami, Rasulullah s.a.w., “Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku takkan pernah peduli apa pun yang aku alami.”

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s