Dan Biarkan Teguran Itu Datang

Hudzaifah bin Al-Yaman r.a. dalam suatu kesempatan, mendatangi sahabatnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. Tidak seperti biasanya, Hudzaifah yang juga disebut ‘sahibus sirri’ (penyimpan rahsia) Rasulullah s.a.w. itu mendapati Umar dengan raut muka yang muram, penuh kesedihan. Ia bertanya, “Apa yang sedang engkau fikirkan wahai Amirul Mukminin?”

Saudaraku,
Jawaban Umar sama sekali tidak terduga. Kesedihan dan kegalauan hatinya, bukan kerana banyak masalah rakyat yang sudah pasti membuatnya letih. Kali ini, Umar justeru khawatir memikirkan kondisi dirinya sendiri. “Aku sedang takut bila aku  melakukan kemungkaran, lalu tidak ada orang yang melarangku melakukannya kerana segan dan rasa hormatnya kepadaku,” ujar Umar perlahan. Sahabat Hudzaifah segera menjawab, “Demi Allah, jika aku melihatmu keluar dari kebenaran, aku pasti akan mencegahmu.” Seketika itu, wajah Umar bin Khattab berubah senang. “Alhamdulillah yang menjadikan untukku, sahabat-sahabat yang siap meluruskanku jika aku menyimpang,” katanya.

Seperti itulah Umar. Jika banyak orang gusar dan marah mendapat teguran atas kesalahan yang dilakukannya, tapi ia sangat menginginkan teguran. Khalifah kedua setelah Abu Bakar r.a. itu justeru ingin kesalahannya diketahui orang lain, untuk kemudian ditegur dan diluruskan. Subhanallah.

Saudaraku,
Berterus terang kepada diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan bukan suatu hal yang mudah. Terlebih mengaku berterus terang kepada orang lain dan menerima kesalahan yang dilakukan. Lebih sulit lagi, menerima teguran orang lain atas kesalahan. Tapi sebenarnya, teguran atas kesalahan itu amat kita perlukan. Al-Quran memberi banyak ilustrasi tentang ajakan bermuhasabah, mengevaluasi diri dan teguran langsung atas kesalahan. Metode muhasabah dan teguran yang ada dalam ayat-ayat Al Quran, mengajak kita mahu mengakui semua perbuatan dengan jujur dan tulus. Agar kita terbiasa berterus-terang mengungkap pelbagai kesalahan kepada diri sendiri. Memeriksa noda-noda kesalahan dan kekeliruan yang ada lalu mengakuinya. Bukan untuk membesar-besarkan kesalahan dan membuat diri menjadi gelisah, tetapi agar kita mengetahui kadar kebaikan dan keburukannya. Inilah makna yang dimaksud dalam perkataan Said bin Jubair saat ia ditanya,

“Siapakah orang yang paling hebat ibadahnya?” Ia menjawab, “Orang yang merasa terluka kerana dosa dan jika ia ingat dosanya ia memandang kecil amal perbuatannya.” (Az-Zuhd, Imam Ahmad, 387)

Saudaraku,
Perhatikanlah bagaimana para sahabat radhiallahu anhum dalam Perang Uhud mendapat teguran langsung dari Allah SWT, saat mereka terluka dan mengalami situasi tertekan dan sulit. Ketika itu turun firman Allah SWT,

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemu dua pasukan itu, mereka digelincirkan oleh syaitan kerana sebahagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau). Dan sesungguhnya Allah telah mengampuni mereka…” (Al-Quran, Ali Imran: 155)

Lihatlah juga di saat bagaimana Allah SWT menegur langsung mereka dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 165:

“Kalian berkata: “Dari mana datangnya kekalahan ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

Perhatikanlah bagaimana Allah SWT menegur para sahabat dalam peperangan Hunain.

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, di waktu kalian menjadi sombong kerana banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun…” (Al-Quran, At-Taubah: 25)

Maksud teguran langsung tersebut adalah untuk membangkitkan suasana muhasabah, mengangkat kejujuran dan ‘keterbukaan yang’ menjadikan seseorang mampu mengambil pelajaran dari kekeliruan dan kesalahannya. Musharahah atau keterus-terangan untuk mengakui kesalahan adalah langkah paling awal untuk memulai proses pembaikan.

Saudaraku,
Teguran itu pahit. Tapi cubalah lebih jauh merenungi, pentingnya teguran atas kesalahan. Abdul Hamid Al Bilali, dalam ‘Waahatul Iman’, menghuraikan banyak hal tentang akibat dosa dan kesalahan yang terus menerus dilakukan kerana tidak mendapat teguran. Menurutnya, akibat kesalahan yang dilakukan terus menerus adalah sikap tidak merasa berdosa dan tidak merasa bersalah. Perasaan tidak bersalah dan tidak berdosa itu sendiri, mungkin disebabkan kondisi akrab dengan dosa tertentu yang terlalu sering dikerjakan. Situasi seperti inilah yang paling ditakutkan Al-Hasan Az-Zayyat rahimahullah – ia mengatakan,

“Demi Allah, aku tidak peduli dengan banyaknya kemungkaran dan dosa. Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Sebab jika sesuatu dikerjakan dengan rutin, maka jiwa menjadi akrab dengannya dan jika demikian, jiwa menjadi tidak memiliki kepekaan lagi.” (Tanbiihu Al-Ghafiliin, 93)

Bagi Al-Hasan, kesalahan dan dosa itu masih dianggap kewajaran lantaran manusia memang pasti melakukan salah dan dosa. Yang ia khawatirkan justeru ketika kesalahan dan dosa itu tidak dapat dihentikan, dilakukan terus menerus, lalu jiwa menjadi tidak sensitif terhadap kesalahan dan dosa itu. Juga, ketika dosa dan kesalahan tak terhenti kerana tak mahu menerima teguran yang berupaya menyadarkan. Dan, ketika dosa dan kesalahan terlalu sering dilakukan kerana tak ada nasihat serta teguran yang mampu menghentak diri dari kelalaian. Ada lagi akibat dosa yang lebih berbahaya dari kondisi itu. Yakni perasaan aman dan tidak mendapatkan hukuman dari berbagai dosa yang dilakukan. Artinya, seseorang bukan saja tidak menyadari dosa yang dilakukan, tapi lebih dari itu, merasa tenteram dan aman dari hukuman yang Allah SWT berikan.

Saudaraku,
Camkanlah nasihat yang dituturkan Imam Ibnul Jauzi dalam Saidul Khatir,

“Ketahuilah, ujian paling besar bagi seseorang adalah merasa aman dan tidak mendapatkan siksa setelah mengerjakan dosa. Boleh jadi hukuman datang belakangan. Dan hukuman paling berat adalah jika seseorang tidak merasakan hukuman itu. Sampai hukuman itu menghilangkan agama, mencampakkan hati hingga tak mampu menentukan pilihan yang baik. Dan, di antara kesan hukuman ini adalah seseorang tetap melakukan dosa justeru disaat tubuhnya segar-bugar dan seluruh keinginannya tercapai.” (Saidul Khatir, 169)

Marilah kita renungkan, kalimat terakhir dari nasihat Ibnul Jauzi ini.
Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s