Kebahagiaan itu ada disini

Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syeikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, “Orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (‘ubudiyyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya’. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.”

Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul kerana semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang.

“Semakin tinggi tuntutan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu.” (Tahdzib Madarijus Salikin, 119)

Maka, jangan hentikan perenungan dan muhasabah diri kita masing-masing. Sungguh banyak lubang yang harus kita waspadai di tengah hidup yang penuh fitnah dan tipu daya ini.

Manusia, diciptakan dalam keadaan susah payah. Memang itulah ketentuan Allah SWT. Al-Quran menyinggung masalah ini dalam firman-Nya, “Laqad khalaq nal insaana fii kabad” ; Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan kabad atau susah payah. (Al-Quran, Al Balad: 4). Kata `kabad’ dalam kamus Mu’jam Al Wasit didefinisikan dengan kata masyaqqah wa `ana artinya kesulitan dan kesusahan. Ya, sulit dan susah. Itulah yang pasti akan menghiasi hidup semua.

Jangan merasa hairan dengan kenyataan hidup. Jangan hairan dengan terpaan masalah hidup. Sudah terlampau banyak firman Allah SWT dan petunjuk Rasulullah s.a.w. yang menuntun kita untuk memahami realiti itu. Hidup itu memang tempat kita ditempa, diuji dengan semua keadaannya. Begitulah Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya’ ayat 35.

“Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan (yang sebenar-benarnya). Dan, hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.”

Banyaknya peringatan Al-Quran tentang kehidupan, adalah agar kita tidak tersentak dengan bencana, musibah, dan ragam masalah hidup. Orang yang telah mengetahui sebelum merasakan sesuatu yang berat, tentu akan lebih ringan tatkala ia merasakannya. Orang yang belum mengetahui sesuatu yang sulit, pasti akan terkejut dan merasa terlalu payah saat ia mengalami kesulitan. Begitulah.

Abu Sa’id Al Khudri r.a. dahulu pernah menjenguk Rasulullah s.a.w. saat beliau menderita demam, menjelang wafatnya. “Kuletakkan tanganku di badannya. Aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini.” Rasul mengatakan, “Begitulah kami (para nabi). Cubaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cubaannya?” Baginda menjawab: “Para nabi.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?” Rasul mengatakan, “Orang-orang salih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, adalah sampai salah seorang mereka diuji tidak mendapatkan apapun kecuali mantel yang kumpulkan. Tapi, bila seorang diantara mereka diberi ujian kesenangan, adalah sebagaimana salah seorang di antara kalian senang kerana kemewahan.” (HR. Ibnu Majah)

Kita pasti ingin hidup bahagia, jauh dari kesulitan dan kesedihan. Tak ada masalah yang memberatkan. Ya, kita semua ingin bahagia. Dan kebahagiaan hidup yang sejati itu, hanya dapat dicapai melalui kedekatan kepada Allah, melalui amal-amal ibadah dan kesalihan. Hanya itu jalannya.

Cuba renungkan, bagaimana kondisi hati, ketika kita melakukan aktiviti ibadah kepada Allah SWT. Renungkan juga, bagaimana suasana kalbu saat kita melakukan ibadah solat yang dilakukan dengan berjamaah. Gembirakah? Senangkah? Bercahayakah? Jawapannya, iya. Pasti. Dengarlah, bagaimana bunyi do’a yang dianjurkan oleh Rasul s.a.w., untuk dibaca kala kita melangkah ke masjid,

“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikanlah kepadaku cahaya, dan jadikanlah aku cahaya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Cahaya itu yang akan menerangi jiwa. Jiwa yang bercahaya pasti akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Itulah inti kehidupan yang sering dilupakan manusia. Mungkin oleh kita juga. Kita banyak yang mencari-cari kebahagiaan dari sumber yang tidak memiliki kebahagiaan yang memberi ketenangan. Kita sering menggantungkan kebahagiaan dari keadaan dan kondisi yang sebenarnya tidak menyusupkan kebahagiaan yang mententeramkan hati.

Ibnul Qayyim mengistilahkan keadaan rasa bahagia dan tenang dalam jiwa dengan istilah rahmah bathiniyah (kasih sayang batin), yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang melakukan ketaatan. Kasih sayang batin itu adalah sentuhan perasaan dalam hati seseorang, yang mendapat musibah berupa ketenangan dan ketenteraman. Tidak resah dan tidak khawatir. Perhatikanlah kata-katanya menggambarkan keadaan seseorang yang mendapat kasih sayang batin itu, “Seorang hamba boleh justeru menjadi sangat sibuk merasakan kasih sayang-Nya, saat ia menghadapi penderitaan yang berat. Dia berfikir seperti itu, kerana yakin bahwa itu adalah pilihan terbaik yang ditetapkan kepada-Nya.”

Saudaraku,
Di sinilah hakikat kebahagiaan hidup, yang kita cari…

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s