Perpisahan Yang Membahagiakan

letting_go_by_bandico-d5s1eyh

Ketika Rasulullah kehilangan putranya yang bernama Ibrahim, baginda menangis. Memang kehilangan seringkali meninggalkan rasa pedih dalam hati. Kehilangan acapkali menggumpalkan mendung kesedihan di ufuk hati dan kemudian butiran-butiran air mata berlinang di pipi.

Tetapi, ternyata tidak setiap kehilangan selalu menghadirkan kesedihan dan kepedihan. Tidak setiap kepergian harus ditangisi dan mengoyak rajutan kebahagiaan dalam hati. Bahkan ada sesuatu yang bukan saja tidak usah ditangisi jika ia pergi, namun memang harus pergi dari hidup kita. Harus hilang dan tidak pernah kembali lagi.

Kemaksiatan. Dosa.

Itulah sesuatu yang memang harus pergi dan kita usir dari hidup kita. Agar tidak kembali lagi untuk selamanya. Ucapkan selamat tinggal dan perpisahan abadi terhadap dosa.

Cerminan dari do’a yang sering dibaca Nabi dalam do’a iftitah solat,

New Picture (89)

“Ya Allah jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah sucikanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana disucikannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan embun.”

Dosa sering kali dibalut oleh kesan kenikmatan. Kesan kesenangan. Walau sesaat. Bak fatamorgana dan air di lautan yang diminum tetapi tidak pernah mampu menghilangkan rasa haus. Hanya menambah rasa penasaran dan makin terasa haus. Dari itulah tidak banyak yang mampu mengangkat dirinya dari arus dosa. Kerana kenikmatan itu. Kerana kesenangan itu.

Orang yang telah bertaubat, berarti harus kehilangan kenikmatan fatamorgana. Memang terkadang ada rasa kehilangan. Terkadang ada rasa ingin kembali ketika berjumpa dengan teman masa lalu yang masih asyik berenang di keruhnya dosa. Padahal hanya waktu saja yang kita perlukan. Untuk berpindah dari kenikmatan sesaat yang menyesatkan pada kenikmatan hakiki yang abadi. Dosa harus hilang dari kita. Kita harus ikhlas kehilangan dosa. Kita harus bahagia kerana telah mampu menyapih diri ini dari candu dosa. Walau berpisah dengan dosa bukan hal yang mudah. Kita sendiri mungkin telah merasakan tawaran manis dosa akan segala hal yang tampaknya nikmat. Dan kita pun telah banyak mengorbankan segalanya untuk dosa itu. Tetapi ternyata ia telah menjerumuskan kita dan siapa saja yang mendekatinya. Kemudian ia pergi meninggalkan kita dalam kesendirian menyesalinya. Sampai kita lupa akan peristiwa ini, dan dosa datang kembali membawa tawaran yang terkesan lebih manis. Mengapa ingatan kita begitu lemah akan hari-hari suram yang pernah kita lalui bersama dosa.

Anak muda yang berurai air mata di suatu malam sambil berdo’a semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita. Mansur bin Ammar mengira hari telah pagi, dia pun keluar dan ternyata hari masih gelap. Di tengah keheningan malam dia mendengar rintihan do’a di sela esakan tangis anak muda yang tak pernah dikenalnya.

“Tuhanku ketika aku bermaksiat kepada-Mu aku tidak bermaksud mendurhakai-Mu. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa azabnya sangat pedih. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa aku tidak pernah lepas dari penglihatan-Mu. Tetapi jika bukan Engkau siapakah yang akan menolongku. Kalau Engkau putuskan tali ini siapakah yang akan sanggup menyambungnya kembali. Tuhanku, setiap usiaku bertambah, bertambah pula dosa-dosaku. Setiap aku bertaubat setiap itu pula aku kembali kepada dosa dan tidak malu kepada-Mu.”

Suara itu putus. Esakan terhenti. Mansur bin Ammar tidak mendengar apa-apa lagi. Hanya ta’awwudz yang keluar dari mulut Mansur. Esok harinya dia melihat ada jenazah di rumah itu dan seorang ibu tua yang menangis. “Ini anakku. Yang ketika malam telah larut dia selalu solat di mihrabnya menangisi dosa-dosanya. Dia bekerja di siang hari dan selalu membagi hasilnya menjadi tiga. Sepertiga untukku, sepertiga untuk orang-orang miskin dan sepertiga lagi untuk dia berbuka puasa,” jelas ibu tua itu.

Malam itu telah menjadi saksi untuk sebuah ucapan selamat tinggal. Selamat tinggal yang diucapkan oleh anak muda itu kepada semua dosanya. Benar-benar dia telah meninggalkan dosa-dosanya. Bahkan meninggalkan dunia untuk selamanya menuju Tuhannya.

Kini kita harus lebih banyak menangis. Bukan untuk dosa yang akan meninggalkan kita. Tetapi mengapa kita tak sanggup mengucap selamat tinggal kepada dosa-dosa itu. Kehilangan dosa adalah anugerah. Kehilangan yang akan mendatangkan kebahagiaan. Itulah kisah perpisahan yang membahagiakan.

Agar Kita Tersenyum Nanti

Kehilangan yang juga tidak perlu ditangisi adalah kehilangan sesuatu yang memang tidak mungkin kita cegah. Masa tua. Tidak satu pun yang sanggup menghentikan lajunya perputaran bumi. Agar usia tidak bergeser. Semuanya pasti menuju kepada masa tua.

Telah banyak yang hilang ketika kita sampai pada usia itu. Hari-hari masa muda yang penuh dengan dinamika telah lenyap. Tulang-tulang juga mulai rapuh. Terasa cepat lelah. Penyakit datang silih berganti. Rambut tidak hitam lagi. Yang pasti banyak yang tidak seperti dulu lagi.

“Tua dan kematian adalah penyakit yang tidak ada ubatnya,” kata Rasulullah. Ya, pergeseran hari menuju masa tua tidak perlu ditangisi. Tidak perlu disesali. Tidak perlu ditakuti. Kerana semua perasaan itu hanya akan menambah tugas hati untuk menanggung beban dan masalah baru.

Jangan terlalu dipusingkan bagaimana meremajakan kulit. Tetapi sibukkan diri dengan aktiviti yang akan membuat kita tersenyum ketika masa tua tiba. Kerana sinar amal yang pangkalnya ada di usia muda memancar hingga usia tua.

Suatu hari Jabir bin Zaid yang usianya sudah berkepala enam datang ke masjid dengan memakai sepasang sandal usang. Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Telah berlalu dari usiaku enam puluh tahun. Dua sandalku yang usang ini lebih aku cintai dari seluruh usiaku yang telah berlalu, kecuali hari-hariku yang aku hiasi dengan kebaikan.”

Kerana hanya hari-hari bersama kebaikan itulah yang akan abadi. Sementara hari-hari lain yang dikotori dengan dosa tak akan meninggalkan kesan. Bahkan hanya menjadi beban. Orang seperti Jabir mungkin dapat banyak tersenyum kerana hari-hari lalunya penuh dengan kebaikan. Tetapi kita, akan kah mampu tersenyum ketika merenung kembali ke belakang. Semoga.

Berapa pun usia yang telah berlalu dari kita, tidak terlalu penting. Apa saja kenikmatan masa muda yang telah hilang juga tidak penting. Usaha maksimal agar kita bahagia dan tersenyum bangga di usia tua itulah yang jauh lebih penting. Rasanya kita perlu meniru do’a Ibnu Abi Lubabah setiap petang hari menjelang,

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan siang dan mendatangkan malam sebagai ketenangan, nikmat dan keutamaan. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kenikmatan hari ini. Boleh jadi banyak dosa yang aku lakukan pada hari-hari usiaku yang telah lalu. Ya Allah ampunilah aku pada sisa usiaku dan jagalah aku dari api neraka.”

Masih ada lagi kehilangan yang tidak perlu kita tangisi. Apalagi kalau itu adalah ibarat harga yang harus kita bayar untuk kesuksesan. Mengorbankan salah satu pilihan hidup untuk fokus pada satu pilihan hidup yang utama. Bentangan pilihan hidup di hadapan kita begitu luas. Banyak yang dapat kita pilih. Tetapi tentu saja tidak semuanya mampu kita raih. Walaupun keinginan terkadang lebih besar dari kemampuan diri.

Mungkin kita ingin menggabungkan beberapa keahlian dalam hidup kita. Mungkin kita ingin menangani banyak pekerjaan dalam satu waktu. Mungkin kita berharap mampu membaca beberapa buku dalam kesempatan yang sempit.

Sebenarnya tidak ada cacat dari keinginan besar itu. Tetapi yang harus diwaspadai adalah tidak terkonsentrasinya pemikiran dan usaha, sehingga tidak ada hasil optimal. Apalagi kalau kemampuan diri terhitung sederhana. Bukankah lebih baik satu tapi istimewa dan berprestasi daripada banyak tapi tidak keruan hasilnya.

Berarti ada yang harus kita buang. Berarti harus ada yang kita pangkas dari keinginan yang menggebu itu. Imam Ibnu Madini rela kehilangan banyak ilmu. Tetapi beliau terfokus pada satu bidang ilmu. Awalnya, protes datang dari teman karibnya Yahya bin Said Al Qattan, “Jangan kau habiskan waktumu untuk mempelajari hadis. Kerana kamu akan kehilangan banyak ilmu.” Ibnu Madini ulama yang memiliki prinsip hidup yang kukuh. Dia tetap pada jalur hadis saja. Memang dia akhirnya harus kehilangan banyak ilmu. Tetapi dia adalah lautan dan rujukan utama dalam masalah ilmu hadis, tiada tanding tiada banding. Sebagaimana kesaksian Soleh bin Muhammad, “Aku tidak mengetahui orang yang lebih pakar di bidang hadis dan ‘ilalnya kecuali Ibnu Madini.”

Begitulah, ternyata memang kehilangan tidak semuanya menyimpulkan kesedihan. Ada bahagian hidup ini yang hilang dan ternyata itu adalah modal untuk kita tersenyum di kemudian hari.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s