Syafa’at Penghuni Syurga

ini-6-ciri-teman-sejati

Saudaraku fillah,
Cuba lihat ayat Al-Qur’an surat Al-Qaaf ayat 31-35. Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfiman yang artinya,

“Didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tidak jauh dari mereka. Inilah yang dijanjikan kepadamu, iaitu kepada setiap hamba yang selalu kembali pada Allah lagi memelihara semua peraturan-peraturan-Nya. Orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedang Dia tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Al-Quran, Qaaf: 31-35)

Syurga.

Keindahannya, memang tak dapat terjangkau oleh fikiran kita. Itu yang pernah disabdakan Rasulullah s.a.w. Bahwa pemandangan syurga, tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terlintas dalam fikiran manusia. Tapi perhatikanlah saudaraku, kandungan dari ayat di atas. Betapa keindahan dan kenikmatan tak terlukiskan itulah yang bergerak mendekati orang-orang yang beriman.

Sayyid Qutb menerangkan makna ayat ini dengan sentuhan yang sungguh dalam.

“Setiap kalimat dan gerakan (syurga) yang ada pada ayat itu mengandungi penghormatan pada penghuni syurga. Mereka tidak dibebankan untuk susah payah mendatangi syurga. Malah sebaliknya, syurgalah yang mendatangi mereka dan berada tidak jauh dari mereka. Mereka mendapatkan nikmat keredhaan Allah terhadap mereka bersamaan dengan nikmatnya syurga.” (Fi Zilal Al-Qur’an, IV/3365).

Subhanallah. Maha Suci Allah.

Saudaraku,
Jika keindahan dan kenikmatan syurga tak pernah terjangkau dalam kapasiti kemanusiaan yang ada pada kita, apakah itu berarti, kengerian dan kepedihan siksa neraka tak mampu terbayang oleh kemampuan indera kita? Jika kemurahan yang diberikan Allah SWT kepada kita di dalam syurga tak mampu kita gambarkan, apakah itu artinya kemurkaan Allah SWT atas dosa dan kesalahan kita, tak terperi lagi rasanya?

Banyak firman Allah dan hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang menguraikan suasana keindahan syurga dan kepedihan neraka. Allah SWT menjelaskan adanya komunikasi antara penghuni syurga di tengah kenikmatan dan kemurahan Allah, kepada penghuni neraka di tengah kepedihan dan azab Allah SWT.

Kelak para penghuni neraka meminta-minta air kepada penghuni syurga. Mereka juga meminta apa saja dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada penghuni syurga agar dapat menghilangkan dahaga mereka yang memecahkan lidah dan tenggorokan mereka. Lidah-lidah yang dahulu digunakan untuk menghina dan merendahkan orang lain yang berada di jalan kebenaran.

“Penghuni neraka menyeru kepada penghuni syurga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang direzekikan Allah kepadamu.” (Al-Quran, Al-Araf: 50)

Renungkanlah, sebatas perenungan kita sebagai manusia. Betapa kepedihan, penderitaan dan kehinaan yang dirasakan para penghuni neraka. Saat menjelaskan firman Allah tersebut, lbnu Abbas mengutipkan sabda Rasulullah s.a.w., “Sedekah yang paling utama adalah air. Tidakkah kamu mendengar tentang penghuni neraka yang meminta tolong pada penghuni syurga. Mereka berkata, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau apa saja yang telah direzekikan Allah kepadamu. (HR Ibnu Mundzir, Ibnu Hatim dan Baihaqi)

Tapi, di syurga, tak ada lagi kebencian, tak ada kemarahan. Dalam sebuah hadis yang lain, Rasulullah menggambarkan bagaimana ‘kemurahan para penghuni syurga, kepada penghuni neraka. Lihatlah kemurahan mereka dalam hadis Rasulullah s.a.w.,

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak seorangpun dari orang-orang yang beriman, pada hari Kiamat nanti akan berdiam diri melihat saudaranya seiman masuk ke dalam neraka. Mereka terus-menerus berseru memohon kepada Allah menuntut hak mereka agar dapat mengeluarkan saudara-saudaranya dari api neraka. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami mereka juga dahulu berpuasa bersama kami, mereka juga solat dan berhaji.” (HR Bukhari dan Muslim)

Saudaraku,
Begitulah sikap orang-orang mu’min penghuni syurga. Mereka tidak lupa terhadap saudaranya seiman. Bahkan, terhadap orang yang menentang ajakan kebaikan yang mereka lakukan di dunia. Mereka, hakikatnya, tidak membenci pelaku maksiat itu kerana di hati mereka memang sudah tidak ada lagi ruang untuk kebencian. Mereka hanya membenci perbuatan maksiat itu sendiri, yang dilakukan oleh orang-orang yang lemah imannya.

Merekalah kaum beriman yang memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang yang berbuat maksiat itu di hadapan Allah di hari kiamat. Merekalah orang-orang yang Allah berikan kepadanya derajat mulia serta kedudukan tinggi di syurga. Merekalah yang terus-menerus meminta pada Allah agar Dia mengampunkan dosa-dosa orang yang beriman agar dapat dimasukkan ke dalam syurga bersama-sama mereka. Bahkan untuk dapat mengeluarkan mereka dari dalam neraka, para penghuni syurga itu menyebut-nyebut amal salih yang dulu pernah dilakukan oleh orang-orang yang berbuat dosa yang kini terazab di dalam neraka. Amal apa saja yang pernah dikerjakan mereka sebutkan agar mereka selamat dari siksa neraka. Begitu seterusnya. Sungguh bersih dan indah hati para penghuni syurga. Sungguh beruntunglah orang-orang berdosa di neraka, yang mendapat syafa’at mereka.

Saudaraku,
Dalam hitungan kita, hampir dapat dipastikan kita tidak pantas merasakan kenikmatan syurga Allah SWT. Terlebih bila kenikmatan itu kita ukur dengan seberapa kebaikan yang telah kita lakukan. Di samping, seperti dijelaskan dalam sebuah hadis, yang memasukkan seseorang ke dalam syurga bukan amalnya, tetapi rahmat Allah semata. Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan. Demikian arti firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 21.

Kerananya, sudah sepantasnya kita terus memohon kasih sayang Allah, mengharap rahmat-Nya, agar dosa-dosa kita diampunkan-Nya, agar kita dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Permohonan yang tentu harus diiringi dengan amal kebajikan. Permohonan yang harus dikuatkan dengan tekad hati untuk tegar meniti jalan kebaikan.

Kini, tak ada lagi waktu untuk terpedaya. Bertanyalah pada diri sendiri. Layakkah kita nanti termasuk orang-orang yang ‘didekati’ syurga? Jika masih saja kita melakukan dosa, bertanyalah, bila Allah memasukkan kita ke dalam neraka, apakah kita kelak termasuk orang-orang yang mendapat syafa’at dari penghuni syurga?

Mari perbaiki amal-amal ibadah lahir dan batin kita, saudaraku. Carilah perlindungan yang paling kuat dari siksa neraka melalui taubat dari segala kelalaian dan kebodohan kita terhadap Allah SWT.

Ya Allah, lindungi kami dari siksa neraka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s