Bahaya Lintasan Hati

Beautiful-Heart

Prasangka memang hanya lintasan hati.

Kerananya, berprasangka sebenarnya manusiawi. Tak ada orang yang mampu meredam atau menahan yang namanya lintasan hati. Tak ada orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Tak seorang pun mampu menghilangkan sama sekali lintasan hatinya. Itu sebabnya, para sahabat mengajukan keberatannya kepada Rasulullah saat turun ayat,

“Dan bila engkau menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau engkau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (Al-Quran, Al-Baqarah: 284)

Para sahabat yakin tak mampu menghalangi lintasan hatinya, jika itu termasuk dalam hitungan amal mereka. Akhirnya Allah menurunkan ayat selanjutnya, “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya.”

Imam Ghazali menghurai penjelasan buruk sangka dalam satu tema tentang ghibah, iaitu membicarakan keburukan orang lain. Menurutnya, buruk sangka tak lain adalah ghibah batiniyah (membicarakan keburukan orang dengan hati). “Sebagaimana engkau diharamkan untuk menyebut keburukan-keburukan orang lain, maka demikian pula engkau diharamkan untuk berburuk sangka pada saudaramu,” begitulah kata Imam Ghazali.

Apa yang harus dilakukan agar dapat menghindari bahaya buruk sangka? Continue reading

Hikam Ibn Arabi

Kitab Hikam al-Syaikh al-Akbar adalah antara kitab-kitab Hikam yang masyhur dalam ilmu tasawuf selain Hikam Abi Madyan, Hikam Ibn ‘Ata’illah, Hikam al-Haddad dan lain-lain.

Ia mengandungi berbagai hikmah dan kaedah sufiyyah, dan telah disyarah oleh beberapa ulama’ antaranya oleh; Syeikh Muhammad bin Mahmud bin ‘Ali al-Damauni dan Syeikh Mulla Hasan bin Musa al-Kurdi al-Bani. Sebahagiannya telah diterjemahkan ke bahasa Melayu seperti yang dapat dilihat dalam lawan sesawang Syeikh Yusuf Muhyiddin al-Bakhur al-Hasani

Di bawah ini saya pilih 21 buah hikam daripadanya untuk kita renungi dan ambil iktibar, iaitu: Continue reading

Cinta Dan Benci Kerana Allah SWT

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. mengatakan :

Apabila kamu dapati dalam hatimu ada kebencian pada seseorang atau bahkan cinta kepadanya, maka lihatlah seluruh perbuatannya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Apabila seluruh perbuatannya dibenci menurut Al-Quran dan Sunnah, maka bergembiralah dengan berpandukan pada Allah SWT dan Rasul-Nya s.a.w. Dan apabila seluruh amalnya itu disukai Tuhan dan Rasul-Nya sedangkan kamu membencinya, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya kamu adalah orang yang mengikut hawa nafsumu. Kamu membencinya kerana berdasarkan hawa nafsumu serta berlaku zalim kepadanya dengan kebencianmu kepadanya. Juga derhaka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menentang keduanya.

Bertaubatlah kepada Allah SWT dari kebencianmu itu dan mintalah kepada Allah SWT agar mencintai orang itu dan orang yang menjadi kekasih Allah, para wali-Nya, orang yang disucikan-Nya, serta para salihin dari para hamba-Nya agar kamu berada pada jalan Allah SWT. Begitu juga lakukanlah yang sedemikian itu kepada orang yang kamu cintai. Maksudnya, lihatlah amal mereka berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Maka apabila amalnya dicintai menurut pandangan keduanya, maka cintailah dia. Sedangkan apabila amalnya dibenci di dalam keduanya, maka bencilah dia, supaya kamu tidak mencintainya kerana mengikut hawa nafsumu. Sesungguhnya kamu telah diperintah agar melawan hawa nafsumu.

Allah SWT berfirman:

Wahai Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka jalankanlah hukum di antara manusia dengan (hukum syariat) yang benar (yang diwahyukan kepadamu); dan janganlah engkau menurut hawa nafsu, kerana yang demikian itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah, akan beroleh azab yang berat pada hari hitungan amal, disebabkan mereka melupakan (jalan Allah) itu.” (Al-Quran, Sad:26)

Mencari Mursyid

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Berkata Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, “Jika anda berguru kepada seseorang demi untuk sampai kepada Allah, maka ikutilah saranan ini : Hendaklah anda berwudhuk dengan sempurna, mindamu penuh khusyuk dan matamu jangan memandang selain dari tempat wudhuk saja. Sesudah itu, anda terus pergi bersolat. Anda buka pintu solat itu dengan wudhuk tadi, kemudian anda buka pintu istana Allah pula dengan solatmu. Apabila sudah selesai solat, tanyalah Allah menerusi bisikan hatimu – Siapa yang patut saya ambil sebagai pembimbingku, atau guruku? Siapa yang benar-benar dapat menyampaikan ajaran-Mu kepadaku? Siapakah orang pilihan-Mu? Siapakah Khalifah-Mu? Siapakah Wakil-Mu?

Allah Maha Pemurah, nanti pertanyaanmu yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa ragu lagi, bahawa Dia akan mendatangkan ilham ke dalam hatimu. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam dirimu, iaitu petunjuk yang paling batin sekali, yakni sirr. Allah akan memberikan tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan dibukakan buatmu, lalu cahaya itu akan mendorongmu ke jalan yang benar. Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari pasti akan mendapat. Continue reading

Jangan membantah kebijaksanaan Allah

Pada hari Ahad pagi di Ribath, 3 Syawal 545 H, Syeikh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menyampaikan ceramahnya sebagai berikut:

Menentang Allah ketika takdir-Nya menyapa kita merupakan tanda kematian agama, kematian tauhid, kematian tawakal dan ikhlas. Hati seorang mukmin tidak mengenal kata “mengapa” dan “bagaimana”, tapi ia hanya berkata bahwa nafsu memang cenderung menentang. Maka barangsiapa yang menginginkan kebaikan, hendaknya ia memerangi nafsu itu sampai ia merasa aman dari kejahatannya. Nafsu itu amat jahat. Tapi, bila engkau mampu menjinakkannya, ia akan menjadi baik. Ia akan taat dan meninggalkan semua kemaksiatan. Ketika itu dikatakanlah kepadanya:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (Al-Fajr: 27-28)

Maka kemudian, ketaqwaan seorang mukmin akan menjadi benar, keburukannya akan hilang, dan ia tidak lagi bergantung kepada makhluk apapun. Saat itu, ia boleh dinisbatkan kepada bapanya, Nabi Ibrahim a.s., kerana beliau adalah orang yang telah bebas dari kongkongan hawa dan nafsunya. Ia mampu berjalan dengan hati yang tenang. Berbagai makhluk datang kepadanya dan menawarkan diri untuk membantunya, tetapi ia mengatakan, “Aku tidak perlu bantuan kalian. Pengetahuan-Nya mengenai keadaanku telah cukup bagiku sehingga aku tak perlu meminta kepada yang lain.” Ketika penyerahan dirinya dan kepasrahannya itu benar, Allah pun lantas memerintahkan kepada api,

“Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69)

Pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla kepada orang yang bersabar bersama-Nya itu tidak terhingga banyaknya. Begitu pula kenikmatan yang akan diberikan-Nya di akhirat tidaklah sanggup dihitung banyaknya. Continue reading