Mintalah Kepada Allah

“Siapa nama pemuda itu?”

“Saifuddin (Pedang Agama)”

Maulana Jalaluddin Rumi berkata, “Pedang yang masih tersimpan dalam sarungnya tidak mungkin terlihat. Pedang agama ialah dia yang berperang untuk agama dan mempersembahkan segala usaha mereka hanya kepada Allah. Dia yang membezakan kebenaran dari kesalahan serta memilah antara yang hak dan yang batil. Tapi sebelum melakukan itu, mereka harus mengoreksi diri dan memperbaiki etika: ‘Mulailah dari dirimu sendiri.’

Semua nasihat akan mereka arahkan pada diri sendiri seraya berkata, “Pada akhirnya, kau juga seorang manusia yang memiliki dua tangan dan kaki, dua telinga dan pemahaman, dua mata dan mulut. Para nabi dan wali yang sudah meraih kebahagiaan dan telah sampai pada tujuan mereka juga manusia seperti aku yang memiliki dua telinga, akal, lisan, dua tangan dan dua kaki. Tetapi kenapa mereka ditunjukkan pada jalan itu? Mengapa pintu itu dibukakan untuk mereka, tetapi tertutup untukku?” Continue reading

Advertisements

Mata Air Kesegaran Hati

mata air

“Agama ini kukuh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu.” (Al-Baihaqi)

Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh.

Seperti halnya tanaman, ruhani memerlukan siraman

Sekuat apa pun sebatang pohon, tidak akan pernah dapat lepas dari ketergantungan dengan air. Siraman air menjadi energi baru buat pohon. Dari energi itulah pohon mengukuhkan pijakan akar, meninggikan batang, memperbanyak cabang, menumbuhkan daun baru, dan mencambahkan buah.

Seperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang mampu dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar. Allah SWT memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surah Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman; Continue reading

Bahaya Lintasan Hati

Beautiful-Heart

Prasangka memang hanya lintasan hati.

Kerananya, berprasangka sebenarnya manusiawi. Tak ada orang yang mampu meredam atau menahan yang namanya lintasan hati. Tak ada orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Tak seorang pun mampu menghilangkan sama sekali lintasan hatinya. Itu sebabnya, para sahabat mengajukan keberatannya kepada Rasulullah saat turun ayat,

“Dan bila engkau menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau engkau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (Al-Quran, Al-Baqarah: 284)

Para sahabat yakin tak mampu menghalangi lintasan hatinya, jika itu termasuk dalam hitungan amal mereka. Akhirnya Allah menurunkan ayat selanjutnya, “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya.”

Imam Ghazali menghurai penjelasan buruk sangka dalam satu tema tentang ghibah, iaitu membicarakan keburukan orang lain. Menurutnya, buruk sangka tak lain adalah ghibah batiniyah (membicarakan keburukan orang dengan hati). “Sebagaimana engkau diharamkan untuk menyebut keburukan-keburukan orang lain, maka demikian pula engkau diharamkan untuk berburuk sangka pada saudaramu,” begitulah kata Imam Ghazali.

Apa yang harus dilakukan agar dapat menghindari bahaya buruk sangka? Continue reading

Syafa’at Penghuni Syurga

ini-6-ciri-teman-sejati

Saudaraku fillah,
Cuba lihat ayat Al-Qur’an surat Al-Qaaf ayat 31-35. Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfiman yang artinya,

“Didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tidak jauh dari mereka. Inilah yang dijanjikan kepadamu, iaitu kepada setiap hamba yang selalu kembali pada Allah lagi memelihara semua peraturan-peraturan-Nya. Orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedang Dia tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Al-Quran, Qaaf: 31-35)

Syurga.

Keindahannya, memang tak dapat terjangkau oleh fikiran kita. Itu yang pernah disabdakan Rasulullah s.a.w. Bahwa pemandangan syurga, tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terlintas dalam fikiran manusia. Tapi perhatikanlah saudaraku, kandungan dari ayat di atas. Betapa keindahan dan kenikmatan tak terlukiskan itulah yang bergerak mendekati orang-orang yang beriman.

Sayyid Qutb menerangkan makna ayat ini dengan sentuhan yang sungguh dalam. Continue reading

Perpisahan Yang Membahagiakan

letting_go_by_bandico-d5s1eyh

Ketika Rasulullah kehilangan putranya yang bernama Ibrahim, baginda menangis. Memang kehilangan seringkali meninggalkan rasa pedih dalam hati. Kehilangan acapkali menggumpalkan mendung kesedihan di ufuk hati dan kemudian butiran-butiran air mata berlinang di pipi.

Tetapi, ternyata tidak setiap kehilangan selalu menghadirkan kesedihan dan kepedihan. Tidak setiap kepergian harus ditangisi dan mengoyak rajutan kebahagiaan dalam hati. Bahkan ada sesuatu yang bukan saja tidak usah ditangisi jika ia pergi, namun memang harus pergi dari hidup kita. Harus hilang dan tidak pernah kembali lagi.

Kemaksiatan. Dosa.

Itulah sesuatu yang memang harus pergi dan kita usir dari hidup kita. Agar tidak kembali lagi untuk selamanya. Ucapkan selamat tinggal dan perpisahan abadi terhadap dosa. Continue reading